Panggilan Mendesak

camp
Anak

Bermula Kejang 2 Jam, Kini 4 Tahun Anakku Tak Bisa Apapun Akibat Gangguan Otak!

“Berawal dari kejang selama 2 jam pada hari itu, kini anakku sudah hampir 4 tahun tak bisa apa-apa. Kejang panjang itu membuat oksigen tak sempat mengalir ke otaknya, hingga Ia harus menanggung lumpuh otak seumur hidupnya!”“Setiap hari aku meratapi dengan tangis, hari-harinya hanya bisa terbaring tak berdaya. Namun, di matanya pula aku menemukan sepercik harapan, seolah berkata ingin terus berjuang. Ia selalu tersenyum dengan hangat, itulah yang menjadi alasanku berupaya demi kesembuhannya…” -Siti Nurhayati, Orangtua Hadi-Rasa syukurku begitu dalam hanya dengan melihat anakku, Muhammad Hadi Ramdani (4 tahun), masih bisa bernapas hingga hari ini. Setiap helaan napasnya terasa seperti anugerah yang begitu berharga.Masih hangat ingatanku yang sempat melalui hari-hari mengerikan itu, ketika anakku seminggu tak sadarkan diri di ruang PICU. Ia didiagnosa epilepsi (gangguan saraf otak), meningitis dan mikrosefali (ukuran otak lebih kecil dari ukuran normal).Padahal anakku lahir sehat dan tumbuh normal, tapi ternyata hanya sampai usia 1 tahun. Selanjutnya, penyakit itu datang menjadi mimpi buruknya. Ia mengalami demam tinggi, muntah-muntah, kejang-kejang hebat hingga akhirnya tak sadarkan diri. Kini, tubuhnya kaku dan lemah. Ia masih mengalami kejang 2-3 kali setiap hari. Rasanya begitu pilu melihat anakku melewatkan masa kecilnya dengan terbujur di tempat tidur, sementara anak-anak lain seusianya berlari dan tertawa riang di luar sana.Setiap bulan kami harus bolak-balik ke rumah sakit untuk kontrol dan terap. Tapi aku kesulitan sekali menghadapi biaya pengobatannya. Bahkan, aku tak mampu membeli susu khusus untuk nutrisinya hingga Ia mengalami gizi buruk.Aku merasa berdosa sekali anakku harus mengalami semua situasi ini. Apalagi Ia harus menjalani tindakan EEG dan MRI ulang di rumah sakit. Rasanya aku hampir  pasrah, karena bingung, harus mencari kemana lagi ongkos perjalanan dari Cianjur ke rumah sakit Jakarta?Segala perhiasan dan harta benda lainnya sudah ku jual tak bersisa. Suamiku bekerja sebagai kuli bangunan, itu juga dapat upah kalau ada panggilan kerja. Sedangkan aku tak bisa bekerja karena 24 jam harus merawat anakku yang lemah.Saat ini anakku sangat membutuhkan ongkos transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, susu khusus untuk kebutuhan gizinya dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Hadi tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Hadi!
Dana terkumpul Rp 14.173.001
1 hari lagi Dari Rp 14.173.000
Donasi
camp
Anak

“Ayah Janji, Nanti Kita Main Lagi," Kini Shanum Berjuang Melawan Meningitis TB dan Hidrosefalus

“Kakak, Ayah mohon kuat ya kak. Ayah janji, nanti kalau Kakak sehat, kita pergi ke kebun binatang dan main sama-sama lagi.” Itulah kalimat yang selalu aku bisikkan ke telinga anakku. Berbulan-bulan lamanya aku harus merawat putriku sekaligus banting tulang mencari nafkah seorang diri.”“Bahkan, bersamaan ketika anakku harus berkali-kali operasi, kontrak kerjaku tidak diperpanjang perusahaan. Akhirnya, aku banting setir menjadi kurir paket karena biaya pengobatan anakku terus menanti. Aku harus memanggul puluhan kilogram barang untuk diantar, pikiranku hanya tertuju pada satu hal, putriku. Semoga jerih payah ini bisa membuat putriku terus berjuang dan suatu hari benar-benar sembuh.” -Muamar, Orang tua Shanum-Shanum Mecca Alfhatunnisa (1 thn), nama cantik itu kuberikan pada anakku sebagai doa agar putriku tumbuh sehat dan membahagiakan keluarga. Kehadirannya menjadi anugerah terindah yang memenuhi rumah kami dengan tawa dan harapan. Tapi siapa sangka, damai hatiku hilang dalam sekejap saat anakku menginjak usia 1 tahun.Semua bermula dari demam tinggi yang tak kunjung sembuh. Setelah menjalani perawatan rumah sakit, kondisi anakku justru semakin memburuk. Ia mulai hilang kesadaran, tatapannya kosong, Ia tak lagi merespon ketika dipanggil dan matanya juling.Setelah pemeriksaan lanjutan di rumah sakit, anakku didiagnosa Meningitis TB (ada bakteri di otak), hidrosefalus (penumpukan cairan di otak), dan epilepsi (kerusakan saraf otak). Mendengar satu per satu vonis itu, rasanya dada ini sesak. Hidupku rasanya bagai diterjang badai!Sejak itu, hidup anakku berubah menjadi penderitaan. Tidurnya tak pernah nyenyak, bahkan dalam sehari ia hanya mampu terlelap sekitar dua jam. Selebihnya, ia harus menahan kejang, tremor, dan detak jantung yang berdetak begitu cepat. kondisi anakku saat ini tak bisa aktivitas apapun, hanya tiduran saja. Anakku harus menjalani terapi agar tubuhnya tidak kaku. Ia sudah menjalani operasi berkali-kali pemasangan selang untuk mengurangi kelebihan cairan di kepalanya. Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi orang tua selain melihat anaknya terus berjuang melawan rasa sakit tanpa mampu menggantikannya. Bohong jika aku tak merasakan putus asa, tentu saja aku sering merasakannya, apalagi ketika sedang tidak ada uang.Penghasilanku hanya Rp70 ribu sehari, belum dipotong bensin dan makan.  Saat Shanum mulai jatuh sakit, istriku sedang mengandung. Kini setelah adiknya lahir, ia harus merawat dua anak sekaligus, bayi yang baru mengenal dunia dan Shanum yang membutuhkan perhatian sepanjang waktu.Demi menambah penghasilan, aku kerap mengambil pekerjaan tambahan sebagai kenek truk pengangkut ayam. Namun, penghasilan yang kami dapat tetap belum mampu mengejar kebutuhan yang terus bertambah. Sementara anakku masih butuh bolak-balik rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp 100.000 saja, kita bisa jadi alasan Shanum tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Shanum!  
Dana terkumpul Rp 14.990.000
2 hari lagi Dari Rp 14.879.000
Donasi
camp
Anak

Batuk yang Kami Kira Biasa, Ternyata Menyimpan Vonis Jantung Bocor untuk Arsyla

“Hati ibu mana yang tidak hancur saat melihat buah hatinya harus menahan sakit disuntik dan diinfus berkali-kali? Lebih menyayat lagi, anakku bahkan harus berjuang di ruang PICU selama dua hari dua malam, sendirian menghadapi rasa sakit dan ketakutan."“Sebagai seorang ibu, aku hanya bisa menangis dari kejauhan karena tidak diizinkan menemuinya. Tak sanggup membayangkan Ia berada di kamar rumah sakit yang dingin, mungkin menangis mencari pelukanku.” -Sumiyati, Orang tua Arsyla-Sungguh aku sebagai orang tua rasanya seperti disambar petir di siang bolong, ketika harus mendengar anakku, Arsyla Fadhillah Wahyudi (2 thn), mengalami jantung bocor. Anakku yang ku dambakan kehadirannya, tapi lahir dengan menghadapi ujian sakit mematikan.Kenyataan pahit ini terungkap ketika anakku mengalami batuk dan flu berat yang tak kunjung sembuh. Berat badannya terus menurun, napasnya sering terdengar berat dan cepat. Aku pun langsung membawa anakku periksa ke rumah sakit.Meski demikian, hatiku tak pernah benar-benar tenang. Aku selalu merasa ada yang tidak beres, karena setiap anakku batuk, napasnya juga ikut terengah-engah. Namun, semua kekhawatiran itu dianggap biasa saja oleh dokter yang saat itu mengatakan tidak ada masalah serius terjadi pada anakku.Aku agak merasa lega saat itu, hingga akhirnya kondisi anakku kian memburuk. Batuknya semakin parah, disertai demam yang tak kunjung reda lebih dari seminggu. Aku pun membawa anakku ke rumah sakit berbeda, saat itulah dokter menemukan jantung anakku terdengar bising. Setelah diagnosa sakit anakku terungkap, anakku dirujuk untuk melanjutkan pengobatan ke Jakarta. Kini alat penutup kebocoran jantung sudah tertanam di jantung anakku. Syukurlah, kondisinya lebih baik meski Ia masih mengalami sesak napas dan tubuhnya sering lemas.Anakku masih harus rutin minum obat dan kontrol rutin. Aku terus melakukan segala cara agar anakku bisa berobat, berkali-kali aku berangkat sebelum subuh dari agar dapat nomor antrean dan selalu pulang larut malam. Makan hanya dari jatah rumah sakit, kadang orang tuaku datang mengantarkan bekal agar aku bisa tetap makan. Mas kawin sudah terjual, meminjam uang sana-sini sudah dilakukan anakku bisa terus berobat. Penghasilan suamiku sebagai kuli panggul sangat terbatas. Aku pernah mencari tambahan uang dengan berjualan kopi di pinggir jalan sambil menggendong anakku, tapi usaha itu terhenti karena anakku semakin sakit karena terkena debu. Selain biaya transportasi, anakku juga membutuhkan biaya untuk pembelian obat yang tidak ditanggung BPJS, vitamin, susu khusus dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp 100.000 saja, kita bisa jadi alasan Arsyla tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Arsyla!    
Dana terkumpul Rp 935.000
7 hari lagi Dari Rp 4.152.000
Donasi

Pilihan Campaign