Panggilan Mendesak
Anak
Perutnya Terus Membuncit, Ada Tumor Ganas Pada Testis Ezhar!
“Kanker ganas itu menyerang alat reproduksi anakku tanpa ampun! Penyakit ini menggerogoti tubuh anakku dalam waktu singkat. Perutnya membuncit, sementara badannya semakin kurus. Setiap kali makan, ia harus lebih dulu menelan obat agar rasa mual tak menyiksanya.”“Demi mendampingi anakku, aku terpaksa berhenti dari pekerjaanku. Hari-hariku habis untuk bolak-balik mengantarkan anak ke rumah sakit dari Bogor ke Jakarta. Kini aku hanya bisa bekerja sebagai kenek truk, pekerjaan yang waktunya lebih fleksibel. Namun, penghasilanku sangat terbatas, bahkan untuk sehari-hari.” -Irpan Hardiansyah, Orang tua Ezhar-Tak pernah terlintas di benakku, penyakit yang berawal dari demam tinggi itu ternyata awal pertanda buruk untuk anakku, Muhammad Ezhar Alfarezi (3 thn). Ia sempat mendapat diagnosa tumor testis. Tapi kenyataannya jauh lebih parah, Ia didiagnosa yolk sac tumor.Hatiku luar biasa terpukul. Tapi di tengah keterpurukan itu, aku seolah tak diberi ruang untuk meratapi kesedihan. Kondisi anakku terus memburuk, testis anakku semakin membengkak tanpa terkendali dan anakku terus meringis kesakitan. Di usianya yang masih balita, anakku sudah menjalani operasi pada alat reproduksinya. Kepahitan ini tak pernah ingin ku hadapi sebagai orang tua. Syukurlah, kondisinya menunjukkan perkembangan yang lebih baik meski Ia sering tidak nafsu makan dan lemas.Perjalanan pengobatan anakku masih panjang. Saat ini ia masih harus menjalani kemoterapi. Sejak awal dirawat, anakku harus menjalani rawat inap hingga 10 hari di rumah sakit. Di saat yang sama, kondisi keuanganku kian terpuruk. Aku mulai kebingungan, tak tahu lagi bagaimana cara membiayai pengobatannya.Aku jadi sering meminjam uang pada saudara untuk pengobatan anakku. Biasanya aku berupaya membayar cicilan utang kalau sedang ada pekerjaan. Saat ini anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya. Aku terpaksa meminjam uang ke sana kemari, kepada saudara dan kerabat, demi anakku bisa berobat. Setiap ada pekerjaan, aku berusaha mencicil utang itu sedikit demi sedikit. Hingga hari ini, anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat-obatan yang tak ditanggung BPJS, serta kebutuhan lain selama pengobatan.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Ezhar tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Ezhar!
Dana terkumpul
Rp 1.744.000
1 hari lagi
Dari Rp 13.860.000
Donasi
Anak
Cita-Cita Sekolah yang Terhenti, Rafael Berjuang dari Sakit Jantung dan Abses Otak
“Menginjak usia 6 tahun, anakku menunjukkan tekadnya untuk bersekolah. Ada rasa takut dalam hatiku, khawatir tubuhnya yang rapuh tak sanggup mengikuti aktivitas sekolah. Namun aku tetap mengizinkannya, karena aku ingin Ia merasakan kebahagiaan sederhana, pergi sekolah seperti anak-anak seusianya.”“Meski dengan keterbatasan bicara, anakku tetap aktif dan ceria. Setiap hati aku mengawasinya di sekolah. Semua berjalan lancar, hingga masuk bulan ke-3, akhirnya kesehatan anakku menurun drastis. Tak ada lagi tawanya di kelas, kini hari-harinya lebih banyak dihabiskan dengan berjuang di kamar rumah sakit.” -Herika Priani, Orang tua Rafael-Keceriaan anakku seketika hilang! Tiba-tiba tubuh anakku, Rafael Austin Edgard (8 thn) mendadak lemas dan tak berdaya. Dokter di desaku, di kawasan Kalimantan Barat, tak mampu menangani anakku. Tubuhku gemetar ketakutan, aku tak mau kehilangan anakku!Di tengah kepanikan itu, dokter merujuk anakku untuk berobat ke Jakarta. Tapi aku harus bagaimana? Aku tak punya cukup biaya. Sambil menangis, aku membawa anakku pulang dengan berat hati. Warga desa yang iba, akhirnya gotong royong mengumpulkan dana agar anakku bisa berangkat ke Jakarta. Sejak lahir, Rafael memang telah diuji dengan sakit. Ia mengalami infeksi tali pusar. Saat usianya menginjak 2 tahun, ia mulai sering sesak napas dan didiagnosis infeksi paru-paru. Kondisinya terus memburuk, hingga pemerintah desa membantu mengurus BPJS agar anakku bisa dirawat di rumah sakit. Saat itulah, penyakit jantung itu terungkap!Aku menyaksikan anakku terbaring dipasangi oksigen tinggi. Penyedotan darah juga dilakukan, karena ditemukan darah kotor dan kental di tubuh anakku. Namun, setelah berobat ke Jakarta, ternyata dokter menemukan anakku mengalami infeksi otak (abses serebri).Hatiku hancur melihat keadaannya. Di usia yang seharusnya ia belajar, bermain, dan tertawa bersama teman-temannya, Rafael justru harus menghabiskan hari-harinya di ranjang rumah sakit, berjuang melawan penyakit yang begitu berat.Pantas saja, anakku sering pusing hebat, bahkan pada kondisi tertentu membuat tubuhnya lumpuh. Anakku harus menjalani operasi kepala dan dirawat selama dua bulan penuh. Syukurlah, setelah tindakan, anakku sudah tak lagi mengalami pusing. Saat ini, anakku masih menunggu jadwal operasi jantung di Jakarta. Namun lagi-lagi, biaya menjadi tembok besar di hadapan kami. Suamiku hanya bekerja menjaga kebun milik orang lain, penghasilannya tak seberapa, bahkan untuk kebutuhan sehari-hari pun sering kali tak cukup.Kini, anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit di Jakarta, obat yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Rafael tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Rafael!
Dana terkumpul
Rp 8.895.500
1 hari lagi
Dari Rp 8.862.000
Donasi
Anak
Nyawa Rizky Terancam Akibat Infeksi Paru-paru!
“Anakku kini berjuang melawan infeksi paru-paru! Salah satu penyakit yang menyebabkan kematian utama pada anak di bawah usia 5 tahun. Ketakutan menggerayangiku di setiap tarikan napasnya. Sementara biaya pengobatan terus membayang sebagai beban yang berat.”“Tanpa sadar, aku jadi sering melamun memikirkan nasib anakku hingga aku kehilangan fokus. Bahkan, pernah kakiku terlindas ban mobil karena pikiranku sepenuhnya tertuju padanya. Namun, perlahan aku mencoba menerima keadaan, dan bertekad melakukan yang terbaik untuk anakku.” -Yanti Mardiana, Orang tua Rizky-Anakku, Rizky Moch Ramdan (1 thn), mengalami bronkopneumonia! Setiap napasnya terasa seolah Ia sedang tenggelam, hingga Ia harus berjuang keras untuk sekedar meraih udara. Dadanya naik turun dengan susah payah, disertai batuk yang menyakitkan.Tak jarang anakku menangis, seolah ingin mengadukan kesulitan yang Ia rasakan. Alat bantu napas menjadi sandarannya untuk terus bertahan hidup. Sementara aku selalu berusaha menguatkan diri, meski setiap hari menitikkan air mata melihat anakku yang tidak bisa hidup tenang.Sudah 7 bulan lamanya penyakit ini ada di tubuh anakku. Berat badannya menurun drastis, nafsu makannya hilang karena ia kesulitan minum susu sambil bernapas. Ia sering rewel, menangis saat beraktivitas, dan tak tahan terhadap udara dingin.Perjalanan pengobatannya masih panjang, sementara kemampuan keuanganku sangat terbatas. Suamiku bekerja sebagai kuli bangunan dengan upah sekitar Rp70 ribu per hari, itu pun sering terhenti karena harus mengantar Rizky berobat ke rumah sakit.Seluruh harta berharga yang kami miliki telah dijual demi pengobatan anak kami. Saat ini, anakku masih membutuhkan biaya transportasi ke rumah sakit, pembelian alat bantu napas atau nebulizer, obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS, serta kebutuhan medis lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Rizky tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Rizky!
Dana terkumpul
Rp 10.118.500
1 hari lagi
Dari Rp 10.133.000
Donasi