Panggilan Mendesak

camp
Kesehatan

Selamatkan Pak Hendrik Dari Tumor Otak

“Maaf pak… saya minta waktu untuk mengisi syarat-syarat yang dibutuhkan. Saya harus menemani (suami) berbaring. Rencananya, saya akan menggunakan hasil donasi untuk membayar tunggakan BPJS Kesehatan a.n. suami sekitar Rp 2 juta. Membeli helm therapy cancer sekitar Rp 13 juta. Melakukan MRI Contrast kedua sebesar Rp 7 juta. Serta membiayai terapi dan pengobatan alternatif 2x setiap minggu” -Bu Nina, Istri Pak HendrikHia TemanBaik, awalnya Bu Nina cerita bahwa sang suami (Pak Hendrik) suka mengeluh sakit kepala ringan sejak saat masih aktif bekerja sebagai supir pribadi di Sukabumi. Dari sekedar minum “obat warung” untuk atasi sakit kepala, Pak Hendrik minta dibelikan kacamata agar saat menyetir penglihatan tetap jelas. Tapi sudah menggunakan kacamata pun, penglihatan Pak Hendrik bukan membaik. Diminta Bu Nina rehat, ia enggan. “Sekarang susah cari pekerjaan mah, Insya Allah ayah masih kuat untuk memenuhi tanggung jawab (nafkah)”Beberapa bulan kemudian, Pak Hendrik tidak tahan juga. Ia putuskan untuk resign dan beristirahat di rumah. Yang berat bukan penglihatan saja, tapi kepalanya juga. Bahkan kali ini, ia tidak mampu menahan rasa dingin. Tidak kuat wudhu, tidak kuat mandi, bahkan tidak mau minum air biasa. Ia hanya mau menggunakan air hangat/ panas. Bu Nina pertama kali mengajak Pak Hendrik ke dokter saat wajah sebelah kirinya mengalami mati rasa (baal). Pak Hendrik dirujuk ke Faskes 2 di Rumah Sakit Hermina Sukabumi.  Dimana dokter mendiagnosanya mengalami TENSION HEADACHE. Pak Hendrik hanya minum obat-obatan dari dokter. Satu bulan berlalu, sakit masih ada, walaupun terkadang datangnya.Di bulan kedua, Bu Nina mengantarkan Pak Hendrik lagi ke rumah sakit. Oleh dokter yang sama, Pak Hendrik didiagnosa mengalami BELLS PALSY. Yang bahasa awamnya: nyeri di kepala yang membuat wajah seseorang “membleh” sebelah. Pak Hendrik tetap minum obat-obatan yang diberikan dokter. Tapi karena lebih dari tiga bulan tidak ada perubahan berarti, keduanya datang lagi.Kali ini oleh dokter yang berbeda, Pak Hendrik didiagnosa mengalami NEURALGIA TRIGEMINAL. Teman Baik dapat mencari sendiri di google tentang penyakit ini. Yang jelas penyakit ini termasuk langka di dunia medis. Sejak didiagnosis penyakit ini, Pak Hendrik tidak saja konsumsi obat dari dokter, tapi obat alternatif (herbal). Pak Hendrik juga mulai melakukan terapi-terapi alternatif (seperti akupuntur).Satu tahun berlalu, mata kiri Pak Hendrik mulai juling. Ia dibawa lagi ke rumah sakit. Di sini dokter menyarankan untuk lakukan CT Scan di kepala. Hasil CT Scan keluar, tapi diagosanya tidak beda: NEURALGIA TRIGEMINAL. Tidak lama dokter merujuk Pak Hendrik ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Oleh dokter di sini, Pak Hendrik didiagnosa mengalami MENINGIOMA PSEUDOTUMOR atau tumor selaput otak. Setelah tahu diagnosa ini, Pak Hendrik mengambil handphone dan menghubungi Bu Nina. Tatapannya kosong, yang keluar pun hanya pertanyaan “Kok bisa ya bu? Kok bisa ya? Masa sih?”. Saat bercerita soal tumor ini kepada saya (kurator), Bu Nina terdiam sebentar. Saya pikir ia mau menangis. Pikirannya seperti kemana-mana. Terpikir anaknya yang belum usia setahun bakal jadi yatim. Terpikir Pak Hendrik yang kemungkinan buta. Keluar banyak pertanyaan di dalam hatinya, mulai dari yang tidak masuk akal, sampai yang paling masuk akal: Bagaimana memenuhi biaya pengobatan Pak Hendrik, suaminya yang tercinta?Saya (kurator) hanya bisa sampaikan bahwa ini cobaan untuk keluarganya. Yang bisa dilakukan sekarang hanya terus berdoa dan berikhtiar, semoga Pak Hendrik cepat sembuh. Yang pasti Bu Nina dan Pak Hendrik tidak sendiri. Saya yakinkan masih ada Teman Baik yang terketuk hatinya untuk bantu meringankan beban dengan berdonasi. Atau minimal yang membaca ceritanya dapat memberikan doa. (SID)Ayo Teman Baik, bantu Pak Hendrik yang sedang berjuang melawan tumor otak. Caranya:1.    Share campaign ini. Di Twitter, Instagram, Line dan Whatsapp Kamu 2.    Klik “Donasi Sekarang”3.    Isi Nominalnya4.    Pilih Metodenya. Lebih praktis DONASI lewat OVO, DANA, LinkAja, BCA KlikPay, KlikBCA, Sakuku, Go-Pay dll. Bisa juga lewat Transfer Bank (BCA, Mandiri, BRI, BNI). Atau lewat Kartu Kredit
Dana terkumpul Rp 4.678.150
6 hari lagi Dari Rp 25.000.000
Donasi
camp
Kesehatan

Adelia Ingin Sembuh dari Kanker Kelenjar Getah Bening

Hai TemanBaik, nama saya Adelia Arie Pradita, usia 29 tahun. Akhir tahun 2016 saya merasakan benjolan di leher sebelah kanan. Benjolan keras dan tidak sakit, tapi saya merasa gatal-gatal padahal sebelumnya tidak ada riwayat alergi, keringat dingin pada malam hari, mudah lelah dan sulit bernafas, batuk dan mudah sakit.Saya memeriksakan diri ke dokter umum, diberi obat tapi tak kunjung membaik. Akhirnya saya dirujuk ke dokter penyakit dalam. Setelah diperiksa dan konsultasi dengan dokter bedah, dokter mengatakan saya harus dibiopsi. Saya mencari pendapat lain, periksa ke dokter penyakit dalam yang lain. Namun hasilnya sama, saya harus dibiopsi.Pada Oktober 2017, akhirnya saja menjalani biopsi di RS Elisabeth Semarang. Dan hasil laboratorium menyatakan saya terkena kanker kelenjar getah bening (lymphoma hodgkin). Sejak itu, saya harus menjalani kemoterapi sebanyak 6 kali di RSUP Dr. Kariadi Semarang, mulai Desember 2017 setiap 3 minggu sekali. Karena sel kanker belum bersih, saya menjalani 2 kali kemo kembali dan dokter menyatakan sel kanker sudah bersih.Saya menjalani hidup seperti biasa, beraktivitas kembali. Februari 2019, benjolan kecil sebesar kelereng muncul di leher dan ketiak sebelah kiri. Benjolan semakin besar sehingga Oktober 2019 saya kembali dibiopsi. Hasil laboratorium menunjukkan sel kanker aktif lagi. Saya harus menjalani kemoterapi lagi tiga siklus, enam kali masuk obat tiap dua minggu. Seharusnya saya kemo 6 siklus tapi karena 3 siklus lainnya harus menggunakan obat yang tidak ditanggung BPJS saya hanya menjalani 3 siklus saja. Tidak ada biaya. Kanker kelenjar getah bening saya semakin membesar dan menghalangi saluran nafas. Saya merasakan sesak nafas, batuk, dan tak bisa bangun dari tempat tidur. Saya sempat dilarikan ke IGD dan menjalani perawatan di rumah sakit serta tetap melanjutkan kemoterapi.Akhirnya penyinaran yang harus saya jalani selesai. Tapi setelah CT scan, sel kanker ternyata belum bersih. Dokter memutuskan saya harus menggunakan obat Adcetris 50mg seharga Rp 50 juta/vial (rencana butuh 6 vial) untuk menuntaskan rangkaian siklus kemoterapi ini. Tetapi obat ini tidak di-cover BPJS. Saya mendapat bantuan untuk 5 vial, tapi yang 1 vial saya harus menanggung biayanya. Saya dan keluarga bingung dari mana biaya sebesar itu untuk membeli 1 vial. Saya mengetuk hati TemanBaik semua semoga berkenan untuk membantu saya menebus 1 vial obat ini demi kesembuhan saya. Saya rindu hidup normal seperti lainnya. Terima kasih.TemanBaik, ayo bantu Adelia supaya sembuh dari sakit kanker kelenjar getah bening. Tanam kebaikan selagi masih ada kesempatan.
Dana terkumpul Rp 9.115.857
7 hari lagi Dari Rp 50.000.000
Donasi
camp
Kesehatan

Bantu Rumah Singgah Untuk Anak Dan Ibu Dengan HIV/AIDS

Hai TemanBaik, melihat ODHA, orang-orang dengan HIV/AIDS ditolak dan dikucilkan, Maria Magdalena Endang Sri Lestari tergerak untuk merangkul mereka. Pada 26 Oktober 2015, Lena sapaannya, mendirikan Rumah Aira. Tempat ini merupakan rumah singgah bagi anak-anak dan perempuan dengan HIV/AIDS. Keberadaan Rumah Aira sempat mengalami penolakan dari warga sekitar karena ketakutan akan penularan HIV/AIDS dari anak-anak dan perempuan yang ditampung. Akibatnya Rumah Aira harus beberapa kali pindah kontrakan. Hingga akhirnya mereka diterima warga dan bisa mengontrak rumah di Jl. Kaba Timur No. 14 Tembalang, Semarang, Jawa Tengah. Di tempat ini, anak-anak dan perempuan dengan HIV/AIDS tinggal layaknya anggota keluarga.“Saya ciptakan suasana rumah seperti keluarga lain sehingga mereka merasakan damai, keluarga utuh dan penuh kasih sayang di dalamnya,” ujar Lena. Anak-anak dan perempuan di Rumah Aira juga secara rutin mendapat pelayanan kesehatan untuk memeriksakan diri dan kesehatan mereka. Dengan kapasitas rumah kontrakan Rumah Aira kurang memadai dengan luas 60m² dan masa kontrak habis, Rumah Aira ingin membeli rumah sendiri. Kebetulan rumah di sebelah kontrakan hendak dijual dengan harga Rp 500 juta, luas 150m². Untuk pembelian rumah tersebut, Rumah Aira membutuhkan dana sebesar Rp 200 juta guna menambah kekurangan dana pembelian rumah.  Dengan membeli rumah itu diharapkan 5 anak dan 3 perempuan dewasa yang saat ini ditampung di sana bisa hidup lebih layak. Selain mereka yang tinggal di rumah singgah, Rumah Aira juga melakukan pendampingan terhadap 8 anak dengan HIV/AIDS.Ayo bantu anak-anak dan ibu dengan HIV/AIDS di Rumah Aira punya rumah lebih layak. Tanam kebaikan selagi masih ada kesempatan.
Dana terkumpul Rp 5.442.279
7 hari lagi Dari Rp 200.000.000
Donasi

Pilihan Campaign