Panggilan Mendesak

camp
Kesehatan

Suamiku Tiba-tiba Alami Stroke Saat Sedang Bekerja Sebagai Tukang Ojek

“Saat itu suamiku sedang bekerja sebagai tukang ojek, berjuang mencari nafkah seperti biasanya. Namun di tengah aktivitasnya, ia tiba-tiba mengeluhkan seluruh tubuhnya terasa kaku. Kondisinya semakin memburuk hingga akhirnya kami membawanya ke rumah sakit.”“Setelah menjalani pemeriksaan, dokter menyampaikan kabar yang begitu menghancurkan hati. Suami saya didiagnosis mengalami stroke! Sejak saat itu, perjuangan panjang melawan penyakit ini dimulai.” -Minah, Istri sari Ali-Penyakit stroke membuat kemampuan gerak suamiku, Muhammad Ali (63 thn), turun drastis. Tangan dan kakinya sulit digerakkan, bahkan Ia kesulitan untuk berbicara. Suamiku lebih banyak terbaring di kasur, memakai popok karena tidak bisa ke kamar mandi untuk buang air.Sudah lima tahun lamanya suamiku telah menjalani berbagai pengobatan dan perawatan ke rumah sakit. Padahal, dulu beliau adalah seorang tukang ojek yang selalu bekerja keras demi keluarga. Tetapi kini, seluruh tubuhnya terasa kaku dan bahkan bisa dilarikan ke rumah sakit jika penyakitnya kambuh. Di balik keterbatasannya, suami saya tidak pernah kehilangan harapan. Dengan suara yang terbata-bata, beliau sering menyampaikan kalimat yang selalu membuatku menangis, yaitu “kalau sudah sembuh, saya ingin ngojek lagi.” Kalimat sederhana itu menjadi bukti bahwa semangatnya untuk pulih masih sangat besar.Sebagai istri sekaligus pendampingnya, hatiku hancur melihat kondisi beliau sekarang. Aku selalu berusaha mendampinginya dalam setiap proses pengobatan, tetapi perjuangan ini tidak mudah. Demi memenuhi kebutuhan suami, aku bahkan harus meminjam uang kepada teman karena keterbatasan ekonomi yang kami alami.Saat ini kebutuhan biaya transportasi untuk kontrol ke rumah sakit dan pengadaan kursi roda menjadi kendala terbesar bagi kami. Penghasilan keluarga hanya bergantung pada anak kami yang berjualan di warung kopi dengan pendapatan yang tidak menentu. Sementara kebutuhan pengobatan dan perawatan suami terus berjalan setiap harinya. Suamiku masih membutuhkan biaya untuk obat yang tidak ditanggung BPJS, susu, pampers, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp 100.000 saja, kita bisa jadi alasan Pak Ali tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Pak Ali!   
Dana terkumpul Rp 2.873.002
1 hari lagi Dari Rp 4.730.000
Donasi
camp
Kesehatan

Matanya Berjamur Demi Bekerja untuk Keluarga, Pak Warjo Kehilangan Penglihatan

Dulu, Pak Warjo adalah tulang punggung keluarga yang tak pernah mengenal lelah. Ia rela bekerja keras dari pagi hingga larut malam. Bahkan, Ia mengambil resiko dalam bekerja yang membuat matanya terkena percikan las, debu dan membuatnya sering begadang.Siapa sangka, pengorbanan itu justru meninggalkan luka yang tak terbayangkan. Sedikit demi sedikit, kondisi matanya semakin memburuk hingga merenggut penglihatannya. Akhirnya, Pak Warjo tak lagi bisa bekerja. Kini, sekedar memenuhi kebutuhan sehari-hari saja kesulitan, apalagi untuk biaya pengobatannya.Sejak tahun 2024, hidup Bapak Warjo (41 tahun) berubah drastis. Mata kirinya yang dulu membantu mencari nafkah untuk keluarga kini mengalami kerusakan serius. Warnanya berubah menjadi abu-abu, sering terasa perih, silau, berair, bahkan tampak menonjol hingga mengganggu aktivitasnya sehari-hari.Setiap kali rasa sakit itu datang, Pak Warjo harus menahan pusing hebat yang menusuk hingga membuat air matanya terus mengalir. Ia hanya bisa meredakan nyeri dengan obat tetes mata dan membutuhkan bantuan orang lain untuk melakukan aktivitas sederhana.Setelah menjalani pemeriksaan, dokter menyampaikan kabar yang begitu berat. Terdapat infeksi jamur yang telah mengenai retina matanya. Jika tidak segera mendapatkan penanganan lebih lanjut, Pak Warjo terancam kehilangan penglihatannya secara permanen.Beliau harus menjalani operasi lanjutan, tapi Ia tidak ada biaya transportasi dari rumahnya di Indramayu ke rumah sakit di Bandung. Ia juga tidak memiliki wali yang bisa membantu biaya pengobatannya.Pak Warjo sudah berjuang menjalani operasi pertamanya dengan harapan bisa kembali melihat dan bekerja seperti sedia kala. Namun, perjuangannya belum berakhir. Kondisinya masih membutuhkan operasi lanjutan dan pengobatan intensif.Sayangnya, keterbatasan ekonomi menjadi hambatan besar. Pak Warjo tidak memiliki biaya transportasi untuk menempuh perjalanan dari Indramayu ke rumah sakit di Bandung. Ia juga tidak memiliki pendamping yang dapat membantu memenuhi kebutuhan selama menjalani pengobatan.Sejak sakit, Pak Warjo sudah tidak mampu bekerja secara maksimal seperti dulu. Meski begitu, ia tak pernah menyerah. Dengan sisa kekuatan dan penglihatan yang dimilikinya, Pak Warjo terus berusaha mengerjakan apapun yang ia bisa demi bertahan hidup. Selain biaya transportasi, masih ada kebutuhan obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS dan harus dibeli secara mandiri.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp 100.000 saja, kita bisa jadi alasan Pak Warjo tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Pak Warjo!   
Dana terkumpul Rp 1.280.008
8 hari lagi Dari Rp 4.242.000
Donasi

Pilihan Campaign