Akibat Kanker Serviks, Aku Mengalami Pendarahan Tanpa Henti dan Nyeri Hebat
Rp 4.076.000 dari Rp 6.480.000
Penggalang Dana
Penerima Donasi
“Aku terkejut dan nyaris pingsan, saat dokter bilang aku mengalami kanker serviks! Penyakit mematikan itu tumbuh ganas di leher rahimku. Pantas saja aku sampai tak sanggup berdiri, ternyata nyeri hebat yang selama ini kurasakan bukan sakit biasa.”

“Penderitaanku semakin bertambah ketika aku dirujuk pengobatan dari Papua ke Jakarta. Di tengah tubuhku yang lemah, aku dipenuhi ketakutan tentang ‘harus cari uang kemana?’ Biaya hidup di Jakarta begitu besar, sementara rasa sakit tak tertahankan ini tak bisa ditunda dan terus menyergapku.”

Namaku, Wiki Widiawati Nasba (37 thn), seorang istri sekaligus Ibu yang kini berjuang sembuh dari kanker serviks stadium 3B. Rasa sakit ini begitu berat, tapi yang paling menakutkan bagiku adalah membayangkan jika aku pergi lebih cepat. Anakku masih berusia 7 tahun, Ia masih membutuhkan pelukan dan kehadiranku.

Aku masih ingin terus hidup, menggenggam tangan putriku dan menyaksikannya tumbuh besar. Namun saat ini bahkan untuk memeluknya pun aku tak mampu. Aku harus berobat jauh ke Jakarta. Hari-hariku kini kuhabiskan terbaring di kamar rumah sakit sambil merindukan anakku.

Penyakit ini bermula dari pendarahan tidak normal yang aku alami sebulan penuh. Saat itu, pihak puskesmas hanya memberikanku obat untuk menghentikan pendarahan saja. Aku sempat lega dan mengira aku sudah sembuh, karena pendarahan itu memang berhenti.

Namun 2 bulan kemudian, kondisiku kembali memburuk. Aku mengalami keputihan yang semakin hari semakin banyak, disertai dengan pendarahan. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari perut hingga ke pinggulku. Lantaran pendarahannya semakin tidak terkontrol, aku dirujuk ke rumah sakit untuk menjalani transfusi darah.

Sayangnya, aku tidak menjalani pemeriksaan lanjutan karena keterbatasan alat. Hingga akhirnya, aku dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar di Sorong, Papua. Di sanalah, penyakit itu terungkap!

Sejak itu, aku harus bolak-balik rumah sakit untuk mendapat transfusi darah. Tubuhku luar biasa lemas. Aku tak lagi mampu mencuci, memasak, atau melakukan aktivitas sederhana lainnya. Saat penyakit ini kambuh, aku hanya bisa terbaring, menahan rasa sakit sendirian dalam diam.

Melihat kondisiku yang kian memburuk, kerabat dan orang sekitar berusaha membantu hingga aku bisa berobat ke Jakarta. Namun perjuangan belum selesai, biaya hidup di perantauan sangat besar.

Suamiku tak bisa bekerja karena harus mendampingiku selama pengobatan. Tabungan dari penghasilannya sebagai buruh pabrik pun kini telah habis. Aku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS dan kebutuhan lainnya.
#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Wiki tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Wiki!

Belum ada aktivitas terbaru penggalang dana
Fundraiser
Bantuan itu bukan sekadar uang lho, TemanBaik!
Dengan menjadi Fundraiser, kamu bisa mengumpulkan uang untuk galang dana ini dengan mengetuk hati teman-temanmu yang ingin membantu.
Bantu Campaign Lainnya
Gagal Jantung di Usia 30, Aku Hampir Tak Kembali dari saat melahirkan anakku
Jumiyati
Rp 1.155.000
46 hari lagi
Derita Osteogenesis Imperfecta, Tika Sampai 8 Kali Patah Tulang dan Panggul Bergeser
Tika anggraini
Rp 9.392.691
29 hari lagi
Terlunta di Jakarta Demi Kesembuhan, Habib Faizal Lawan Diabetes Hingga Sakit Jantung
Habib Faizal al aydrus
Rp 1.065.001
58 hari lagi
5 tahun Tak Tahu Alami Kanker Otak, Oktapiani Kini Terancam Buta!
BAHARU SAPARUDIN PENIKAT
Rp 3.975.001
37 hari lagi
Minum Air Hujan Jadi Penopang Hidup Pengurus Gereja yang Mengidap Kanker Prostat
Alex Bili Ghudi
Rp 3.155.002
56 hari lagi
