Sempat Alami Koma dan Nyaris Tak Tertolong, Aira Kecil Terus Berjuang dari Sakit Jantung
Rp 10.000 dari Rp 9.948.000
Penggalang Dana
Penerima Donasi
“Anakku sempat dinyatakan koma dan hampir tidak tertolong! Ia sudah tak lagi menunjukkan tanda-tanda kesadaran! Saat itu sudah ke-4 kalinya Ia masuk IGD, tubuhku gemetar dan pikiranku dipenuhi ketakutan yang tak sanggup aku bayangkan. Aku tidak mau kehilangan anakku.”

“Di tengah doa dan tangisku yang menegangkan, anakku terus bergantung pada alat bantu napas oksigen selama 4 jam tanpa henti. Di saat harapan hampit pudar, keajaiban Tuhan hadir, napas anakku tiba-tiba kembali! Seketika kebahagiaan dan syukur luar biasa menyelimutiku. Sejak itu, aku yakin untuk terus memperjuangkan kesembuhan anakku meski hanya bermodal nekat dan keuangan terbatas.” -Riska, Orang tua Aira-

Tepat pukul 12 tengah malam, keheningan rumahku tiba-tiba pecah oleh tangisan anakku, Aira Rahma (10 bln). Isakannya tak kunjung berhenti sampai aku kebingungan. Suamiku bahkan sempat memanggil ustadz untuk membacakan ayat suci, tapi tangis anakku justru semakin keras.

Anakku sampai kelelahan hingga napasnya sesak, mulut serta kukunya membiru. Pikiranku kacau, apalagi saat aku bawa ke bidan, tenaga medis menolak dan menyarankan anakku ke puskesmas. Namun, pihak puskesmas langsung merujuk anakku ke rumah sakit.

Di ruang IGD rumah sakit, aku menyaksikan anakku dipasangi oksigen dan jarum infus. Aku sangat cemas dan hati berdebar, menunggu di lorong rumah sakit. Hingga akhirnya dokter menghampiriku membawa kabar memilukan, anakku sakit jantung!

Satu-satunya cara agar anakku bisa sembuh hanya dengan operasi di Jakarta. Sejak itu, hari-hariku diisi dengan tangis sejadi-jadinya. Namun, melihat kondisi anakku yang semakin hari kian memburuk dan napasnya terus tersengal-sengal, kekuatanku untuk memperjuangkan kesembuhannya muncul.

Aku membawa anakku berobat dari Banten ke Jakarta. Kini, anakku sedang menunggu jadwal operasi. Kondisinya saat ini sangat lemah, mudah lelah, kedinginan dan lebih banyak diam. Saat sesak napasnya datang, ia bahkan tak mau lepas dari gendonganku seharian, seolah mencari rasa aman di pelukanku.

Demi membawanya kontrol dan berobat, aku sering terpaksa meminjam uang kepada tetangga hanya untuk ongkos perjalanan. Kami berangkat dengan kereta agar biayanya lebih murah. Meski harus lelah berpindah dari satu kendaraan ke kendaraan lainnya sambil menggendong anak yang sakit, aku tetap bersyukur selama kami bisa sampai ke rumah sakit.

Suamiku mengerjakan apapun, mulai dari kuli bangunan, mencangkul di kebun orang, hingga berjualan di pasar. Jika ada kesempatan, aku juga ikut bantu jualan di pasar. Namun aku hampir tak pernah bisa meninggalkan Aira terlalu lama, karena hanya aku yang bisa menenangkannya ketika rasa sakit itu datang kembali.
Sayangnya, upah dari kerja keras suamiku tidak sebanding dengan biaya pengobatan anak yang besar. Selain transportasi ke rumah sakit, anakku juga membutuhkan biaya untuk obat yang tidak dicover BPJS, susu dan kebutuhan lainnya.
#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Aira tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Reygananta!

Belum ada aktivitas terbaru penggalang dana
Fundraiser
Bantuan itu bukan sekadar uang lho, TemanBaik!
Dengan menjadi Fundraiser, kamu bisa mengumpulkan uang untuk galang dana ini dengan mengetuk hati teman-temanmu yang ingin membantu.
Bantu Campaign Lainnya
Peradangan Selaput Otak Membuat Zhasqy Tidak Bisa Menangis dan Bicara
Mardia Juliana
Rp 3.513.000
63 hari lagi
“Aku Janji Jadi Anak Baik Kalau Sembuh,” Anak Petani dari Sumba Berjuang Melawan Penyakit Jantung
Noel Saputra
Rp 2.175.022
43 hari lagi
Jantung dan Paru Mengalami Kelainan. Sri Harus Operasi Segera
Hadiyah
Rp 16.738.018
63 hari lagi
Perutnya Bengkak dan Tubuhnya Kuning. Khairi Butuh Cangkok Hati
Nadiaoktafina Nadia
Rp 7.948.000
23 hari lagi
Ashfa Terus Muntah-muntah Akibat Tidak Punya Lubang Anus
Imam Ibnu Abbas
Rp 4.177.500
52 hari lagi
