Di Balik Tidur Tak Tenang, Anak Sopir Berjuang dari Cerebral Palsy
Rp 95.000 dari Rp 7.431.000
Penggalang Dana
Penerima Donasi
“Di sunyinya malam, saat semua orang terlelap, tiba-tiba saja tubuh anakku kejang habat! Tangisku pecah karena ketakutan, suamiku sedang bekerja dan dompetku kosong untuk membawa anak ke rumah sakit. Sambil menggendong anakku, aku berlari ke rumah tetangga meminta pertolongan.”

“Syukurlah, tetangga memberikan uang agar aku bisa menyewa ambulans untuk anakku. Memiliki anak spesial dengan kondisi keuangan pas-pasan adalah ujian yang berat. Tapi anakku lah yang paling menderita, Ia harus bersabar menahan sakit lebih lama ketika orang tuanya masih berupaya meminjam uang.” -Gusri Lusiani, Orang tua Hana-

Berkali-kali aku menyebut nama Tuhan setiap kali melihat anakku, Hana Zahra Alwani (4 thn), menahan sakit. Berharap Tuhan bisa mendengar dan meredakan penderitaan anakku. Hana sering tiba-tiba menangis tanpa sebab, rasa sakit itu tak terungkap karena Ia belum bisa bicara.

Tanpa mengenal waktu, Hana sering mendadak kejang dan muntah hingga harus masuk rumah sakit. Hari-harinya lebih banyak diisi dengan tangisan. Bahkan, untuk ekedar untuk tidur saja ia selalu resah. Badannya semakin hari semakin kaku. Sudah empat tahun minum obat, tapi kejangnya tak kunjung hilang.

Penyakit ini mulai menunjukkan wujudnya saat usia anakku 6 bulan. Saat anak-anak seusianya mulai bisa mengangkat kepala, telungkup, dan duduk, Hana belum mampu melakukannya. Kemudian, Ia mengalami kejang berulang rutin tiap bulan. Saat itulah anakku didiagnosa cerebral palsy.

Aku tak sanggup menahan air mataku saat pertama kali mendampingi anakku menjalani pengobatan. Hati Ibu mana yang tak hancur mengetahui anaknya mengalami kerusakan otak? Belum lagi, aku harus menyaksikan anakku ditusuk jarum suntik dan di rawat inap di rumah sakit.

Hingga kini, belum ada tindakan operasi untuk Hana. Namun ia harus rutin menjalani kontrol ke rumah sakit. Perjalanan dari desa kami di Provinsi Riau menuju Pekanbaru membutuhkan waktu sekitar empat jam dan biaya yang tidak sedikit.

Selain ongkos perjalanan, aku juga harus membeli obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS, serta memenuhi kebutuhan selama mendampingi Hana menginap di perantauan. Suamiku hanya bekerja sebagai sopir pengantar air, dengan penghasilan yang pas-pasan, cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

Saat ini pun, kami masih menumpang tinggal di rumah mertua demi menghemat biaya. Tak jarang suamiku terpaksa meminjam uang kepada bos tempatnya bekerja ketika Hana harus berobat. Namun, sebelum utang itu lunas, kami kembali harus meminjam demi pengobatan berikutnya.

Sebagai seorang ibu, keinginanku hanyalah agar anakku bisa terus mendapatkan pengobatan yang ia butuhkan. Aku percaya, selama harapan masih ada, aku akan terus berjuang agar suatu hari nanti Hana bisa hidup lebih baik dan terbebas dari penderitaan ini.

#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Hana tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Hana!

Belum ada aktivitas terbaru penggalang dana
Fundraiser
Bantuan itu bukan sekadar uang lho, TemanBaik!
Dengan menjadi Fundraiser, kamu bisa mengumpulkan uang untuk galang dana ini dengan mengetuk hati teman-temanmu yang ingin membantu.
Bantu Campaign Lainnya
Kepalanya Terbentur Hingga 7 Kali! Daljiro Alami Pembengkakan Otak
Wahyu Andiyanto
Rp 17.140.005
67 hari lagi
Kelenjar Getah Bening Menggerogoti Leher Anak Tukang Sapu Jalan!
Asgar Rukmana
Rp 655.006
43 hari lagi
Cita-Cita Sekolah yang Terhenti, Rafael Berjuang dari Sakit Jantung dan Abses Otak
Fajar edo
Rp 559.000
83 hari lagi
Komplikasi Penyakit Serius Merenggut Masa Kecil Intan
Rohiman
Rp 4.230.000
62 hari lagi
Selain Sakit Jantung, Arjuna Juga Mengalami Lumpuh Akibat Ada Nanah di Otaknya!
Vani Susanti
Rp 618.000
72 hari lagi
