Penyakit Hidrosefalus Merenggut Senyum dan Perkembangan Reygananta
Rp 0 dari Rp 9.388.352
Penggalang Dana
Penerima Donasi
“Sebelum sakit itu datang, anakku sudah bisa tengkurap, sering tersenyum dan tertawa ketika diajak bicara. Namun semua kebahagiaan itu berubah menjadi mimpi buruk ketika untuk pertama kalinya Ia mengalami kejang. Responnya semakin berkurang, Ia tak lagi menoleh saat dipanggil, tatapan matanya kosong, dan perkembangannya terhenti.”

“Di saat yang sama, kepalanya juga terus membesar akibat hidrosefalus. Setiap hari aku diliputi rasa cemas dan takut kehilangannya. Meski belum ada tindakan operasi, tapi aku terus memantau kondisi anakku dengan waspada, karena dokter mengatakan penumpukan cairan di otaknya bisa bertambah sewaktu-waktu.” -Wahyuningsih, Orang tua Reygananta-

Anakku, Reygananta Zavian Mavendra, tiba-tiba mengalami kejang. Aku sangat panik dan duniaku terasa berhenti seketika, karena selama ini anakku tumbuh sehat dan perkembangannya juga sangat baik. Namun tak lama setelah itu, anakku menangis tanpa henti dan terlihat sangat gelisah.

Awalnya aku bingung penyebab tangis itu, dengan tangan gemetar aku mulai mengecek seluruh tubuhnya. Hingga akhirnya aku menyadari kepalanya tampak membesar dan ubun-ubunnya tampak menonjol. Aku pun membawanya ke dokter, ternyata anakku mengalami hidrosefalus (penumpukan cairan di otak).

Sebagai orang tua, menerima kenyataan tersebut sangat berat. Tak ada lagi senyum yang selalu ku rindukan itu, perkembangannya yang sebelumnya membuatku bangga perlahan seakan menghilang Otaknya tidak berkembang sebagaimana mestinya. Sedikit demi sedikit, kebahagiaan keluargaku direnggut.

ku harus kuat meski hidupku berganti menjadi kesedihan panjang. Diam-diam aku sering menangis, memikirkan bagaimana masa depannya nanti? Tapi setelah melihat wajahnya, aku sadar harus menguatkan diri. Anakku tidak bisa berjuang sendiri, hanya orang tuanya satu-satunya tempat Ia bergantung.

Aku yakin, doa dan harapanku suatu hari bisa membawa perubahan baik. Sejak itu, aku mulai semangat bolak-balik mengantarkan anakku berobat ke rumah sakit. Di tengah langkahitu, aku harus berhadapan dengan ekonomi keluargaku juga terbatas.
Suamiku bekerja di sebuah restoran, namun upahnya sering terlambat dibayarkan dan jumlahnya tidak menentu. Bahkan terkadang ia harus tidak masuk kerja karena ikut mengantar anak kami bolak-balik ke rumah sakit. Hingga akhirnya, demi melanjutkan pengobatan anak, aku terpaksa menjual cincin kenangan pernikahan.

Sementara itu, aku sendiri sering sakit-sakitan sehingga tidak mampu membantu suami bekerja. Saat ini anakku masih membutuhkan banyak biaya untuk obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS, transportasi ke rumah sakit, susu, serta kebutuhan lainnya.
#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Reygananta tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Reygananta!

Belum ada Donatur terbaru penggalang dana
Belum ada aktivitas terbaru penggalang dana
Fundraiser
Bantuan itu bukan sekadar uang lho, TemanBaik!
Dengan menjadi Fundraiser, kamu bisa mengumpulkan uang untuk galang dana ini dengan mengetuk hati teman-temanmu yang ingin membantu.
Bantu Campaign Lainnya
Bola Matanya Nyaris Keluar, Zibran Bertahan Melawan Tumor di Tengah Keterbatasan
Yenih Rosita
Rp 1.271.006
65 hari lagi
Bermula Kejang 2 Jam, Kini 4 Tahun Anakku Tak Bisa Apapun Akibat Gangguan Otak!
Muhammad Hadi Ramdani
Rp 2.552.001
49 hari lagi
3 Tahun Bertahan dari Jantung Bocor, Arkana Belum Juga Mendapat Jadwal Operasi
Uun Unayah
Rp 800.003
85 hari lagi
Riska Ingin Bisa Melangkah, Meski Hidrosefalus dan Epilepsi Menghentikannya
rima wahyuni
Rp 1.378.000
74 hari lagi
Atresia Bilier Stadium Akhir Menggerogoti Tubuh Kinan, Tulangnya Sampai Patah!
Eryanti Anggreni
Rp 21.766.003
52 hari lagi