Kondisi Anindira Menurun Drastis! Ia Harus Pengobata Jantung dan Paru-paru di Jakarta
Rp 1.048.001 dari Rp 9.869.000
Penggalang Dana
Penerima Donasi
“Tangisku pecah ketika dokter bertanya, ‘mengapa aku tak segera membawa anakku berobat ke Jakarta?’ Dengan suara terbata, aku hanya bisa menjawab bahwa aku tak punya uang. Setelahnya, dokter langsung mengusahakan agar anakku mendapat bantuan dari pemerintah. Rasanya bagai mukjizat!

“Namun, setelah di Jakarta, kondisi anakku sering menurun drastis! Ia bahkan sering tiba-tiba tak sadarkan diri dan harus bolak-balik masuk rawat inap. Operasi yang diharapkan tak bisa dilakukan karena anakku kurang gizi, Ia harus menaikkan berat badan. Sementara aku kesulitan untuk terus berjuang menutupi biaya pengobatan.” -Veryana Wati, Orang tua Anindira-

Aku bahagia luar biasa! Setelah 9 tahun menanti, akhirnya aku memiliki Anindira Mysha Nur Fauziah (2 thn), anakku. Saat lahir, anakku tidak menangis sama sekali. ketika baru saja aku menoleh untuk melihat wajahnya untuk pertama kali, tapi dokter dan perawat malah buru-buru membawa bayiku keluar.

Suamiku mencoba menenangkan dengan berkata bahwa bayi kami baik-baik saja. Namun, saat aku diperbolehkan pulang, bayiku justru masih harus dirawat rumah sakit. Keluargaku bahkan bungkam, mungkin tak tega menceritakan yang sebenarnya karena kondisiku juga belum stabil.

Hingga akhirnya aku memutuskan untuk melihat sendiri anakku di rumah sakit. Tapi betapa teriris hatiku, saat melihat anakku berada di ruang NICU, dipasangi selang dan alat medis. Aku terkejut dan menangis, meski tetap berusaha percaya bahwa ia akan baik-baik saja.

Beberapa hari berlalu, telepon dari rumah sakit membuat dunia seakan runtuh. Bayiku harus segera dirujuk ke rumah sakit di kota karena menderita penyakit jantung dan paru-paru. Sesak sekali hatiku, mengetahui ternyata anakku berjuang sendirian sejak lahir tanpa aku tahu sakit serius yang dideritanya.

Dengan segala keterbatasan, aku dan suami akhirnya bisa membawa anak kami dari Lampung ke Jakarta. Aku bermimpi, suatu hari nanti aku bisa membawanya pulang dengan jantung yang sehat.

Namun, dokter berkata kondisi lubang di jantungnya semakin mengecil, dan jika menutup total justru akan berbahaya karena aliran darahnya bisa terhenti. Kini ia hanya bisa menunggu jadwal operasi bedah, sementara biaya hidup dan pengobatan di perantauan kian membengkak.

Suamiku tak lagi bisa bekerja karena harus mendampingi anak kami berobat. Tabungan dari kerja sebagai buruh bangunan pun sudah habis terkuras. Anakku bahkan sering drop bila tak ada ayahnya di sampingnya.

Aku berusaha membantu dengan berjualan sosis solo yang dititipkan di warung, tapi seiring kondisi anak yang semakin kritis, aku tak lagi mampu melanjutkannya. Saat ini anakku membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS dan kebutuhan lainnya.
#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Anindira tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Anindira!

-
Pencairan Dana Rp 903.849
Ke rekening ****0101 a/n Ahmad Khodili
Dana digunakan untuk Satunan kematian2025-11-28 09:38:17
Fundraiser
Bantuan itu bukan sekadar uang lho, TemanBaik!
Dengan menjadi Fundraiser, kamu bisa mengumpulkan uang untuk galang dana ini dengan mengetuk hati teman-temanmu yang ingin membantu.
Bantu Campaign Lainnya
Demi Biaya, Ilyana yang Sakit Hidrosefalus Terpaksa Ikut Ibunya Narik Ojek
Renita Bantul
Rp 12.444.120
32 hari lagi
Namira Terlahir dengan Kelainan Jantung dan Usus
Siti Nia Nurpadilah
Rp 18.793.048
101 hari lagi
Tak Hanya Epilepsi dan Cerebral Palsy, Gavindra Sampai Mengalami Gizi Buruk
Ernawati Magetan
Rp 6.410.000
26 hari lagi
Pendarahan Hebat! Nyawa Elzio Terancam Jika Tak Cangkok Hati
Eri
Rp 1.568.003
31 hari lagi
Bertahun-tahun Penyakitnya Tak Ketahuan, Tulang Alby Sampai Patah Sendirinya
Esdirawati Prionika
Rp 29.707.001
12 hari lagi
