Bantuan Frastio
Rp 0 dari Rp 1.000.000
Penggalang Dana
Penerima Donasi
“Bu… Ayah… tolong aku. Aku susah napas.” Kalimat itu masih terngiang di kepalaku setiap kali anakku kembali mengalami sesak. Tubuhnya gemetar, wajahnya pucat dan dingin, napasnya terengah-engah seperti sedang berusaha mendapatkan udara yang terasa begitu sulit masuk.

“Ia memelukku erat-erat sambil menangis, rasanya hatiku hancur melihat anakku meminta pertolongan dalam keadaan seperti itu. Aku hanya bisa mendudukkannya agar lebih tegak, mengusap punggungnya, memberikan obat agar napasnya kembali tenang.” -Victoria Ashil, Orang tua Frasentio-

Tanda-tanda penyakit anakku, Frasentio Wijayanto (12 thn), sebenarnya sudah terlihat sejak usianya 11 tahun. Ia mulai sering mengeluh cepat lelah meski hanya bermain sebentar. Napasnya menjadi berat dan dadanya kadang tiba-tiba berdebar tak karuan. Nafsu makannya juga menurun dan tubuhnya semakin kurus.

Aku yang awalnya mengira anakku tidak enak badan biasa. Sampai suatu ketika, anakku berhenti di tengah jalan karena tidak kuat melangkah. Tangannya memegang dada, wajahnya pucat dan Ia ambruk kehilangan tenaga.

Seketika aku panik dan melarikannya ke rumah sakit. Saat itulah hasil pemeriksaan dokter mengubah cara pandangku terhadap semua keluhan yang selama ini dialami anakku. Ia didiagnosa sakit jantung rematik yang telah merusak katup jantungnya.

Hidup anakku berubah, Ia lebih sering bolak-balik rumah sakit. Ia dijadwalkan untuk menjalani operasi, tapi bagiku itu adalah satu hal yang terus membuat pikiranku tidak tenang. Bagaimana aku bisa memenuhi biaya pengobatannya yang begitu besar.

Suamiku bekerja sebagai buruh bangunan, penghasilannya tak menentu. Akhirnya, sedikit demi sedikit, aku menjual barang berharga di rumah agar anakku bisa terus berobat. Tak jarang pula aku meminta bantuan saudara demi anakku.

Pernah ada saat ketika suamiku tidak bisa mencari nafkah karena hujan begitu deras. sementara obat anakku harus dibeli, tidak ada uang tersisa sama sekali. Aku hanya pasrah, terduduk memandangi anakku yang terbaring lemah di dapur. Ingin menangis keras, tapi aku tidak mau menunjukkan kesedihan di depan anakku.

Siapa sangka, tak lama kemudian ada tetangga dan kerabat dekat yang memberikan bantuan. Pertolongan itu terasa begitu besar karena datang tepat ketika aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Sejak itu aku belajar untuk tetap percaya bahwa selalu ada jalan selama aku terus berusaha.

Anakku sendiri masih menyimpan begitu banyak keinginan, di tengah kondisi tubuhnya tidak baik-baik saja. Ia masih ingin sekolah, bermain, membantu Ayah dan Ibu ketika sudah besar nanti. Bahkan ketika melihatku sedih, ia justru berusaha menenangkanku.

#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp 100.000 saja, kita bisa jadi alasan Frasentio tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Frasentio!

Belum ada Donatur terbaru penggalang dana
Belum ada aktivitas terbaru penggalang dana
Bantu Campaign Lainnya
Organ Hati Ahmad Rusak dan Perutnya Bengkak Nyaris Pecah Akibat Atresia Billier
Wulan Puji Lestari
Rp 51.500.019
15 hari lagi
Berkali-kali Mengandalkan Receh untuk Membawa Abinawa Berobat, Aku Berharap keajaiban!
Atirahmayanti 84
Rp 795.000
77 hari lagi
“Bu, Jangan Nangis, Aku Pasti Kuat,” Perjuangan Sayful Melawan Penyakit Jantung Bawaan
Sayful Behri
Rp 930.000
73 hari lagi
Dari Pontianak ke Jakarta, Perjuangan Orang Tua Nur Mengejar Kesembuhan Sang Buah Hati
Bobi ajalah
Rp 903.000
46 hari lagi
Aku Menggendong Tubuh Lemah Anakku Naik Angkot Demi Pengobatan Jantungnya
Shanique angria rachmana
Rp 960.000
86 hari lagi