Benihbaik_2026-08-26_17877528686a8ef1a4360d3.jpeg
Anak

Di tengah Keterbatasan Ekonomi Keluarga, Tami Harus Transfusi Darah Seumur Hidup

Rp 170.000 dari Rp 10.800.000

89 hari lagi

Penerima Donasi

anon
Tami saskia Identitas terverifikasi user
anon
Rekening Penerima Rekening Penerima terverifikasi user
anon
Lokasi Kab. Lebak

“Tami merupakan anak bungsu dari enam bersaudara. Di tengah keterbatasan ekonomi keluarga, selain memperjuangkan pengobatan Tami, aku juga mempertahankan masa depan anakku yang lain. Dua kakak Tami terpaksa harus berhenti sekolah karena kami tidak lagi mampu membiayai pendidikannya, sementara kakaknya yang lain kini juga terancam mengalami hal yang sama.”

“Sebagai seorang ibu, aku merasa sedih dan bersalah pada anak-anakku. Apalagi setiap kali harus membawa Tami berobat, selalu ada kekhawatiran apakah aku masih mampu? Sementara aku tidak ingin keadaan ekonomi menjadi alasan Tami kehilangan kesempatan untuk bertahan.” -Teti Nurhayati, Orang tua Tami-

Sejak masih bayi, kondisi anakku, Tami Saskia (3 thn), sebenarnya sudah menunjukkan tanda-tanda yang berbeda. Ia sering lemas dan pucat, tapi aku tidak membawanya periksa ke dokter karena kendala ekonomi. Aku hanya merawatnya di rumah dan berharap kondisinya membaik seiring waktu.

Namun, semua menjadi semakin mengkhawatirkan ketika tiba-tiba muncul benjolan di kepala anakku. Semakin didiamkan, benjolan itu semakin parah dan bahkan mengeluarkan nanah. Aku takut luar biasa! Dengan panik, aku berlari meminta pertolongan pihak desa agar anakku bisa berobat.

Syukurlah, pihak desa dan puskesmas membantu mengurus BPJS anakku agar Ia bisa periksa ke dokter. Namun, anakku malah mendapat rujukan dari rumah sakit satu ke rumah sakit lainnya. Di tengah kecemasan itu, dokter mendiagnosa anakku kelainan darah.

Sejak itu, hari-hari anakku diisi dengan transfusi darah rutin sekitar dua kali dalam sebulan. Setiap kali kondisi darahnya menurun, tubuh anakku akan kembali terlihat sangat pucat dan lemas, bahkan sering mengalami sakit kepala. 

Tidak ada berlari, bercanda dan bermain bersama teman-teman, penyakit membuat anakku harus lebih sering beristirahat. Ia bahkan bisa lebih sering menghabiskan waktu seharian di rumah sakit selama transfusi darah. 

Namun, anakku tetap mampu menjalaninya tanpa banyak menangis atau membuatku kesulitan. Ia tetap berusaha tersenyum dan membuatku sebagai orang tua kembali memiliki kekuatan untuk terus berjuang. Hal yang paling membuatku terharu adalah ketika Ia mengatakan bahwa Ia ingin sembuh dan bermain bersama teman-temannya. 

Perjuanganku untuk membawa anakku berobat juga tidak mudah. Jarak rumah kami menuju rumah sakit daerah di Banten sekitar 130 kilometer dari rumah, sehingga aku harus memikirkan biaya perjalanan dan kebutuhan selama berada di rumah sakit. 

Suamiku bekerja apapun, sebagai kuli panggul padi, mengambil air, membersihkan ladang, hingga pekerjaan lainnya. Tidak ada penghasilan tetap yang bisa diandalkan setiap hari, sehingga harus mencari cara agar kebutuhan bisa terpenuhi ketika tidak ada pekerjaan sama sekali. 

Aku pernah menjual barang-barang berharga yang kami miliki dan meminjam uang kepada tetangga maupun saudara untuk memenuhi kebutuhan pengobatan anakku. Sementara Ia harus cuci darah seumur hidup, anakku akan terus membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, dan kebutuhan lainnya. 

#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp 100.000 saja, kita bisa jadi alasan Tami tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Tami!    

pak

Belum ada aktivitas terbaru penggalang dana

Fundraiser

gamber-fundraiser

Bantuan itu bukan sekadar uang lho, TemanBaik!

Dengan menjadi Fundraiser, kamu bisa mengumpulkan uang untuk galang dana ini dengan mengetuk hati teman-temanmu yang ingin membantu.

Jadi Fundraiser

Bantu Campaign Lainnya