Benihbaik_2026-08-10_17863688536a79d355a5bad.jpeg
Anak

"Dosa Apa yang Kulakukan?" Tangis Ibu Saat Tahu Anaknya Mengidap Penyakit Jantung Bawaan

Rp 548.000 dari Rp 7.016.375

438 hari lagi

Penerima Donasi

anon
Dafit adimas pratama Identitas terverifikasi user
anon
Rekening Penerima Rekening Penerima terverifikasi user
anon
Lokasi Kab. Boyolali

“Penyakit mematikan itu sudah dibawa anakku sejak lahir. Namun, aku baru mengetahuinya saat usianya hampir satu tahun. Sebagai orang tua, ada rasa bersalah yang terus membayangi. Berkali-kali aku bertanya dalam hati, dosa apa yang aku lakukan hingga anakku harus menanggung penderitaan yang besar di usianya yang masih kecil?”

“Namun, setiap melihat senyuman anakku, aku kembali merasa lebih kuat. Aku sadar, menangis tak akan menyembuhkannya. Hal yang harus aku lakukan adalah terus berjuang untuk kesembuhannya, agar Ia bisa hidup bebas tanpa penyakit.” -Fitria, Orang tua Dafit-

Dafit Adimas Pratama (2 thn) tampak berbeda saat usianya menginjak 9 bulan. Setiap kali Ia menangis dan selesai mandi, bibir dan kukunya menjadi kebiruan. Perkembangannya juga jauh tertinggal dibanding anak-anak lain seusianya. 

Saat aku bawa periksa, petugas bidan memintaku untuk menunggu hingga usia anakku satu tahun. Tapi tidak ada perubahan baik terjadi pada anakku, akhirnya aku memutuskan membawanya ke puskesmas. Saat itulah, kenyataan mengerikan harus ku telan. Dokter menduga anakku mengalami kelainan jantung!

Hari-hariku seperti mimpi buruk, aku harus membiarkan anakku masuk ruang operasi, bertaruh antara hidup dan matinya. Syukurlah, Tuhan masih ingin anakku berada di pelukanku. Bahkan, hanya dalam waktu satu minggu setelah operasi, anakku sudah diizinkan pulang. 

Kini, kondisi anakku mulai stabil, Ia sudah mulai merangkak dan menggeser tubuhnya. Meski Ia belum bisa berdiri seperti anak seusianya, tapi aku sangat bangga dan terharu karena Ia sudah bisa sejauh itu. 

Namun, jika main terlalu lama napas anakku bisa tersengal, dadanya sesak dan tubuhnya gampang lelah. Saat menangis, bibir dan kukunya kembali membiru, bahkan beberapa kali tubuhnya tampak seperti akan pingsan. Setiap kali itu terjadi, kami hanya bisa memeluk dan menenangkannya secepat mungkin.

Setiap bulan aku harus membawanya kontrol rutin dari rumah kami Boyolali ke rumah sakit di Semarang. Lalu, tiap bulan harus kontrol rutin ke rumah sakit Jakarta. Setiap bulan aku dan anakku harus menempuh perjalanan berjam-jam dengan menggunakan mobil sewaan yang harganya tidak murah. 

Pernah suatu ketika aku sama sekali tidak memiliki uang untuk berangkat kontrol ke Semarang. Dengan penuh rasa malu, aku meminjam uang kepada tetangga sebesar satu juta rupiah agar anakku tetap bisa berobat. Selama perjalanan, aku hanya membawa bekal nasi dan tempe bacem dari rumah, agar tidak perlu membeli makanan di luar.

Cobaan belum berhenti di situ. Saat mendampingi anakku menjalani pengobatan di Jakarta, suami yang berada di kampung justru jatuh sakit karena infeksi kelenjar getah bening. Aku akhirnya baru bisa pulang setelah kondisi anakku membaik lalu lanjut menemani suami operasi. 

Untungnya, setelah masa pemulihan, suami akhirnya dapat kembali bekerja di peternakan ayam dengan penghasilan terbatas.  Sekalina untuk kebutuhan sehari-hari, upah suamiku juga dibagi untuk biaya transportasi pengobatan anakku yang tidak pernah berhenti.

Selain biaya transportasi, anakku juga butuh biaya obat yang tidak ditanggung BPJS, membeli susu untuk nutrisinya dan kebutuhan lainnya.

#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp 100.000 saja, kita bisa jadi alasan Dafit tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Dafit!  

pak

Belum ada aktivitas terbaru penggalang dana

Fundraiser

gamber-fundraiser

Bantuan itu bukan sekadar uang lho, TemanBaik!

Dengan menjadi Fundraiser, kamu bisa mengumpulkan uang untuk galang dana ini dengan mengetuk hati teman-temanmu yang ingin membantu.

Jadi Fundraiser

Bantu Campaign Lainnya