Benihbaik_2026-05-04_177786337469f80acead8b8.jpeg
Anak

Ibu Single Parent Berjuang untuk Anaknya yang Sakit Jantung Hingga Hidrosefalus

Rp 1.110.000 dari Rp 6.381.000

91 hari lagi

Penerima Donasi

anon
Septa Riani Identitas terverifikasi user
anon
Rekening Penerima Rekening Penerima terverifikasi user
anon
Lokasi Kab. Musi Banyuasin

“Tak hanya lahir dengan berbagai penyakit di tubuhnya, anakku juga hadir di tengah kisah rumah tanggaku yang hancur. Saat usianya baru 8 bulan, Ia harus berjuang di meja operasi untuk mempertahankan hidupnya. Sementara itu, aku hanya bisa berdiri sendiri di luar ruangan, menunggu selama hampir 4 jam dengan perasaan takut.”

“Hanya anakku yang aku punya satu-satunya, yang menjadi penyemangat hidupku setelah aku berpisah dari suami yang entah kemana. Aku tak mau kehilangan anakku, tapi aku juga kesulitan membiayai pengobatannya. Sementara aku tidak bekerja karena mengurus anak, bahkan masih menumpang tinggal di rumah orang tuaku..” -Septa Riani, Orang tua Gintari-

Aku sangat cemas ketika anakku, Gintari Bilqis (2 thn), lahir prematur tanpa menangis sama sekali seperti bayi pada umumnya. Tubuh kecilnya justru segera dilarikan ke ruang NICU rumah sakit. Selama 13 hari, ia bertahan di dalam inkubator, berjuang sejak detik pertama kehidupannya.

Setelah aku diizinkan untuk membawa anakku pulang, aku berpikir kondisinya akan baik-baik saja. Namun, harapan itu pupus ketika berat badan anakku tak kunjung naik setelah sebulan di rumah. Setiap kali menyusui, Ia selalu tersedak. Tubuhnya tampak membiru hingga urat-uratnya tampak tegang.

Saat dibawa ke rumah sakit, ternyata hal yang harus dihadapi anakku sangat menyakitkan. Anakku didiagnosa jantung bocor, epilepsi yang memicu kejang, bronkopneumonia (radang pada paru-paru), cerebral palsy (kerusakan otak) hingga hidrosefalus (penumpukan cairan di otak).

Rasanya aku hilang arah mendengar rentetan penyakit anakku, yang bahkan sebelumnya nama penyakit itu sangat asing di telingaku. Pikiranku dipenuhi pertanyaan tak terjawab, apakah anakku bisa menanggung semua ini? Bagaimana bisa aku menjaganya tetap bertahan?

Akhirnya, dokter mengambil tindakan untuk menyelamatkan anakku. Ia sudah menjalani operasi pemasangan selang VP-Shunt, untuk mengalirkan penumpukan cairan dari otak ke pertunya. Setiap operasi, aku menjaganya sendirian sampai aku sendiri jatuh sakit karena kelelahan. 

Anakku hanya bisa menghabiskan waktunya dengan berbaring tak berdaya, jarang sekali bergerak bebas seperti anak-anak seusianya. Terkadang, tanpa tanda apapun, kondisinya tiba-tiba demam. Setiap waktu terasa begitu lambat karena aku terus menanti kondisi anakku membaik.

Hingga saat ini, aku masih mengandalkan orang tuaku untuk sehari-hari dan dua anakku. Mereka hanya bekerja sebagai buruh cuci mobil yang penghasilannya Rp70 ribu sehari, itu pun jika hanya ada mobil. Bahkan saat anakku dirawat inap, aku pernah pasrah tidak ada uang sama sekali.

Suster saat itu memintaku untuk mempersiapkan pampers, minyak telon, dan minyak zaitun. Aku bingung harus melangkah kemana karena tidak anak uang sama sekali. Namun, hal tak terduga terjadi, orang tua pasien lain yang satu kamar dengan anakku membantu mencarikan semua kebutuhan itu. Ternyata masih ada tangan baik yang hadir tanpa diminta.

Pengobatan anakku masih berlanjut, sementara aku kesulitan biaya. Anakku masih membutuhkan transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS dan kebutuhan lainnya. 

#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Gintari  tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Gintari ! 

pak

Belum ada aktivitas terbaru penggalang dana

Fundraiser

gamber-fundraiser

Bantuan itu bukan sekadar uang lho, TemanBaik!

Dengan menjadi Fundraiser, kamu bisa mengumpulkan uang untuk galang dana ini dengan mengetuk hati teman-temanmu yang ingin membantu.

Jadi Fundraiser

Bantu Campaign Lainnya