Benihbaik_2026-09-25_17903356066ab65a76a6e4c.jpeg
Anak

“Bu, Jangan Nangis, Aku Pasti Kuat,” Perjuangan Sayful Melawan Penyakit Jantung Bawaan

Rp 605.000 dari Rp 12.118.000

86 hari lagi

Penerima Donasi

anon
Sayful Behri Identitas terverifikasi user
anon
Rekening Penerima Rekening Penerima terverifikasi user
anon
Lokasi Kab. Sampang

“Setiap kali anakku mengatakan kalimat ‘Bu, jangan nangis, aku pasti kuat,’ rasanya aku ingin menangis lebih keras. Bagaimana tidak? Ketika anak lain menikmati masa kecil dengan bermain, anakku justru harus akrab dengan jarum suntik, pahitnya obat, tindakan medis dan rumah sakit.” -Nur Jannah, Orang tua Sayful-

Ini sangat menyakitkan, karena sejak awal aku tidak pernah tahu bahwa ada sesuatu yang serius pada jantung anakku, Sayful Behri (7 thn). Padahal, anakku lahir dalam kondisi normal dan tampak sehat, aku dan suami membawanya pulang dengan hati senang.  

Namun, kesenangan itu hanya bertahan dua bulan pertama saja. Selanjutnya, anakku jadi sering batuk dan flu berulang. Pihak puskesmas memberikannya obat sirup, tapi Ia hanya membaik sementara. Saat itu, aku tidak pernah menaruh kecurigaan buruk sama sekali.

Sampai akhirnya, anakku tak lagi seperti biasanya. Aku membawanya ke rumah sakit, dan aku seperti dipaksa mendengar sesuatu yang selama ini tak pernah terpikirkan. Anakku mengalami penyakit jantung bawaan dan Ia harus menjalani operasi.

Semua perjuangan dimulai saat itu, aku harus membawa anakku berobat dari Madura ke Surabaya. Jaraknya jauh dan perjalanan sangat melelahkan, aku kira anakku bisa segera sembuh. Tapi ternyata, anakku harus melanjutkan pengobatan di Jakarta.

Saat itulah aku semakin takut! Bukan karena tidak ingin membawa anakku ke Jakarta, aku justru ingin sekali. Tapi aku kalut dan bingung, bagaimana bisa kami bertahan hidup di kota sejauh itu? Bagaimana mahalnya biaya perjalanan, tempat tinggal, makan, obat dan kebutuhan lainnya?

Aku tidak bisa langsung membawa anakku ke ibu kota karena tidak ada biaya, tapi aku terus membawa anakku berobat sambil mencari jalan keluar. Penghasilan suamiku terbatas, Ia hanya bekerja sebagai kuli bangunan dan terkadang ikut melaut demi mendapat penghasilan tambahan. 

Sayangnya, tubuh anakku tak bisa menunggu, tubuhnya makin sering membiru, napasnya tersendat dan Ia sering cepat lelah. Aku menjual motor tua hingga mencari pinjaman agar bisa membawa anak berobat ke Jakarta. Meski dengan biaya seadanya, yang penting anakku bisa berobat.

Anakku langsung menjalani kateterisasi jantung dan tindakan medis lainnya. Selama itu, aku dan suami tak selera makan, pikiranku begitu penuh memikirkan anakku yang harus menjalani hal berat di salah satu kamar rumah sakit.

Buah hatiku itu sangat ajaib, meski kondisinya jauh dari kata sehat, tapi Ia selalu yakin bahwa Ia akan sehat, akan membahagiakanku dan menjagaku kalau kelak sudah dewasa. Sementara aku hanya bisa terdiam dan berupaya menahan tangis. 

Anakku masih harus menjalani pengobatan lanjutan, tapi aku terkendala biaya transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, dan biaya lainnya selama pengobatan. 

#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp 100.000 saja, kita bisa jadi alasan Maemunah tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Maemunah!      


pak

Belum ada aktivitas terbaru penggalang dana

Fundraiser

gamber-fundraiser

Bantuan itu bukan sekadar uang lho, TemanBaik!

Dengan menjadi Fundraiser, kamu bisa mengumpulkan uang untuk galang dana ini dengan mengetuk hati teman-temanmu yang ingin membantu.

Jadi Fundraiser

Bantu Campaign Lainnya