“Bu, Jangan Nangis, Aku Pasti Kuat,” Perjuangan Sayful Melawan Penyakit Jantung Bawaan
Rp 605.000 dari Rp 12.118.000
Penggalang Dana
Penerima Donasi
“Setiap kali anakku mengatakan kalimat ‘Bu, jangan nangis, aku pasti kuat,’ rasanya aku ingin menangis lebih keras. Bagaimana tidak? Ketika anak lain menikmati masa kecil dengan bermain, anakku justru harus akrab dengan jarum suntik, pahitnya obat, tindakan medis dan rumah sakit.” -Nur Jannah, Orang tua Sayful-

Ini sangat menyakitkan, karena sejak awal aku tidak pernah tahu bahwa ada sesuatu yang serius pada jantung anakku, Sayful Behri (7 thn). Padahal, anakku lahir dalam kondisi normal dan tampak sehat, aku dan suami membawanya pulang dengan hati senang.

Namun, kesenangan itu hanya bertahan dua bulan pertama saja. Selanjutnya, anakku jadi sering batuk dan flu berulang. Pihak puskesmas memberikannya obat sirup, tapi Ia hanya membaik sementara. Saat itu, aku tidak pernah menaruh kecurigaan buruk sama sekali.

Sampai akhirnya, anakku tak lagi seperti biasanya. Aku membawanya ke rumah sakit, dan aku seperti dipaksa mendengar sesuatu yang selama ini tak pernah terpikirkan. Anakku mengalami penyakit jantung bawaan dan Ia harus menjalani operasi.

Semua perjuangan dimulai saat itu, aku harus membawa anakku berobat dari Madura ke Surabaya. Jaraknya jauh dan perjalanan sangat melelahkan, aku kira anakku bisa segera sembuh. Tapi ternyata, anakku harus melanjutkan pengobatan di Jakarta.

Saat itulah aku semakin takut! Bukan karena tidak ingin membawa anakku ke Jakarta, aku justru ingin sekali. Tapi aku kalut dan bingung, bagaimana bisa kami bertahan hidup di kota sejauh itu? Bagaimana mahalnya biaya perjalanan, tempat tinggal, makan, obat dan kebutuhan lainnya?

Aku tidak bisa langsung membawa anakku ke ibu kota karena tidak ada biaya, tapi aku terus membawa anakku berobat sambil mencari jalan keluar. Penghasilan suamiku terbatas, Ia hanya bekerja sebagai kuli bangunan dan terkadang ikut melaut demi mendapat penghasilan tambahan.

Sayangnya, tubuh anakku tak bisa menunggu, tubuhnya makin sering membiru, napasnya tersendat dan Ia sering cepat lelah. Aku menjual motor tua hingga mencari pinjaman agar bisa membawa anak berobat ke Jakarta. Meski dengan biaya seadanya, yang penting anakku bisa berobat.

Anakku langsung menjalani kateterisasi jantung dan tindakan medis lainnya. Selama itu, aku dan suami tak selera makan, pikiranku begitu penuh memikirkan anakku yang harus menjalani hal berat di salah satu kamar rumah sakit.

Buah hatiku itu sangat ajaib, meski kondisinya jauh dari kata sehat, tapi Ia selalu yakin bahwa Ia akan sehat, akan membahagiakanku dan menjagaku kalau kelak sudah dewasa. Sementara aku hanya bisa terdiam dan berupaya menahan tangis.
Anakku masih harus menjalani pengobatan lanjutan, tapi aku terkendala biaya transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, dan biaya lainnya selama pengobatan.
#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp 100.000 saja, kita bisa jadi alasan Maemunah tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Maemunah!

Belum ada aktivitas terbaru penggalang dana
Fundraiser
Bantuan itu bukan sekadar uang lho, TemanBaik!
Dengan menjadi Fundraiser, kamu bisa mengumpulkan uang untuk galang dana ini dengan mengetuk hati teman-temanmu yang ingin membantu.
Bantu Campaign Lainnya
Tangan dan Jantungnya Memiliki Kelainan. Shabina Butuh Bantuan Pengobatan
Agus setiawan
Rp 17.282.001
69 hari lagi
Sejak Lahir, Shaqeena Berjuang Bernapas dengan Bantuan Alat Medis
Shaqeena Araminta Qinara
Rp 23.008.001
28 hari lagi
13 Tahun Selvi Bertahan Melawan Hidrosefalus, Kini Masih Menanti Operasi Penyelamat
Selvi
Rp 1.000.000
41 hari lagi
Bantu Anak Buruh Tani Berjuang Sembuh Dari Sakit Jantung
Gilang Ramadhans
Rp 0
8 hari lagi
Axcelio Sakit Jantung, Ayahnya Hanya Buruh Kebun Kesulitan Membiayai Pengobatan
Bindar Limbong
Rp 2.273.000
50 hari lagi
