Tatapan Mata Kosong Itu Menjadi Awal Perjuangan Anakku Melawan Gagal Ginjal Stadium 5
Rp 1.005.000 dari Rp 9.291.000
Penggalang Dana
Penerima Donasi
“Setelah membawa anakku, Abdulrohman Al Hanan (4 thn), ke puskesmas, hatiku justru semakin gelisah!Dokter mengatakan demam, batuk, dan flu yang dialaminya hanyalah sakit biasa. Namun, sebagai seorang ibu, ada firasat dan keraguan yang menghantuiku. Aku merasa ada sesuatu yang tak beres dengan anakku.” -Siti Nuriah, Orang tua Abdul-

Tatapan matanya yang dulu ceria, tiba-tiba berubah kosong. Kesadarannya menurun dan setiap kali aku mengajaknya bicara, Ia tampak terdiam lama, seolah berjuang memahami setiap kata yang aku ucapkan. Kian hari kondisinya semakin memburuk, akhirnya aku memutuskan membawanya ke puskesmas untuk mendapat jawaban.

Saat itulah dokter mengatakan hal yang membuatku terkejut, “Bu, anak Ibu sedang kejang.” Saat itulah aku menyaksikan anakku tidak bergerak dan matanya melirik ke atas, membuatku merinding. Dokter akhirnya meminta untuk membawa anakku ke IGD rumah sakit.

Aku begitu panik dan memohon ketua RT untuk menghubungi ambulans desa, tapi mobil itu tak kunjung datang. Di tengah keputusasaan itu, syukurlah ada seorang tetangga yang penuh kebaikan menawarkan untuk mengantarkan anakku ke rumah sakit.

Setelah pemeriksaan mendalam, anakku didiagnosa gagal ginjal akut stadium 5. Setelah berdiskusi dan mempertimbangkan jarak rumah kami di Bogor ke rumah sakit Jakarta, aku memilih tindakan CAPD (cuci darah melalui rongga perut) pada anakku.

Ternyata, bukan hanya satu operasi yang harus ia lalui, tapi beberapa kali operasi. Kini aku hanya bisa menunggu panggilan dari rumah sakit untuk jadwal rawat inap berikutnya. Kondisi anakku memang lebih stabil, tetapi dokter mengingatkan bahwa ia tidak boleh terlalu lelah, tidak boleh berenang, dan harus dijaga agar tidak terkena infeksi.

Setiap kali ia mengeluh sakit di bagian perut, menangis, atau muntah-muntah, jantungku serasa berhenti berdetak. Yang bisa kami lakukan hanyalah segera membawanya ke IGD atau langsung menuju rumah sakit di Jakarta.

Perjuanganku tidak hanya tentang penyakit, tetapi juga tentang bertahan hidup. Semua tabunganku habis, hasil panen yang aku miliki juga terpaksa dijual sedikit demi sedikit hingga tak tersisa. Suamiku hanya bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan sekitar Rp15 ribu sehari.

Demi biaya pengobatan anak kami, ia rela mencari pekerjaan tambahan menjadi tukang cuci piring di warung mie ayam dari pagi hingga sore. Sementara aku hanya seorang ibu rumah tangga tanpa penghasilan. Sementara anakku membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS dan kebutuhan lainnya.

#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp 100.000 saja, kita bisa jadi alasan Abdul tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Abdul!

-
Pencairan Dana Rp 710.000
Ke rekening ****3704610 a/n Siti Maulida
Dana digunakan untuk 1. Reimburse Susu nephrisol d 4 dus Rp388.000 2. Pampers mamy pokok Rp50.000 x 2 ball = Rp100.000 3. Pengisian kartu emoney untuk kontrol 2 kartu Rp100.000 4. Transportasi umum angkot PP 2 kali Rp120.0002026-08-21 10:42:41
Fundraiser
Bantuan itu bukan sekadar uang lho, TemanBaik!
Dengan menjadi Fundraiser, kamu bisa mengumpulkan uang untuk galang dana ini dengan mengetuk hati teman-temanmu yang ingin membantu.
Bantu Campaign Lainnya
Banjir Aceh Memutus Akses Berobat, Istriku Drop Berjuang Melawan Kanker
Hairulsyah
Rp 640.000
56 hari lagi
Anak Buruh Tani di Riau Berjuang ke Jakarta Demi Sembuh dari Sakit Jantung
Siska Sinaga
Rp 2.004.004
40 hari lagi
Menderita Beberapa Kelainan Otak, Adiva Hanya Bisa Terbaring Lemah
Eliana Aprilia Saraswati
Rp 39.918.016
68 hari lagi
Axcelio Sakit Jantung, Ayahnya Hanya Buruh Kebun Kesulitan Membiayai Pengobatan
Bindar Limbong
Rp 1.470.000
82 hari lagi
Anak Kuli Kubah Masjid Harus Berjuang Operasi Jantung
Anah zayinah
Rp 12.397.028
74 hari lagi
