Belum Tuntas Operasi Bibir Sumbing, Kondisi Mata Anakku Kini Terancam Akibat Penyakit
Rp 170.000 dari Rp 19.710.000
Penggalang Dana
Penerima Donasi
“Di saat berusaha memperjuangkan pengobatan bibir sumbing anakku, aku juga tidak boleh mengabaikan kondisi matanya yang bermasalah. Ia masih harus terapi mata ke rumah sakit. Terkadang, anakku harus menahan rasa gatal luar biasa di matanya, hingga Ia tak tahan untuk menyentuh matanya.”
“Aku khawatir kondisi matanya nanti akan mengganggu Ia di masa depan. Aku ingin anakku bisa melihat dunia dengan baik, mengenali orang-orang yang menyayanginya, dan menikmati hal sederhana yang mungkin dianggap biasa oleh orang lain. Namun, aku terkendala biaya untuk pengobatan anakku yang masih panjang.” -Tita, Orang tua Nadzira-

Nadzira Detisa Almahyra (21 bulan), lahir prematur saat usia kandunganku memasuki 8 bulan. Aku yang seharusnya menyambut kelahirannya dengan penuh kebahagiaan, justru harus menerima kenyataan bahwa anakku memiliki dua kondisi medis yang membutuhkan penanganan panjang.

Ia mengalami bibir sumbing pada kedua sisi yang meluas hingga ke langit-langit mulutnya. Selain itu, kedua matanya terdapat bercak putih yang membuat perkembangan matanya belum sempurna dan bercak putih itu tidak bisa hilang begitu saja.

Sulit rasanya menggambarkan perasaanku ketika mengetahui semua itu. Anakku belum sempat menikmati masa kecilnya, tapi sudah harus menjalani berbagai pemeriksaan dan pengobatan. Setiap memandang wajahnya, aku sedih. Sering aku membayangkan betapa bahagianya jika anakku bisa tumbuh tanpa rasa sakit.

Syukurlah, anakku sudah menjalani 3 kali operasi pada bibir sumbing. Sebelum tindakan, anakku belum bisa makan melalui mulut. Ia harus menggunakan selang yang ditancapkan ke hidungnya untuk asupan makan, bukan hal yang mudah untuk anak seusianya.

Namun, anakku masih harus menjalani operasi bibir sumbing lanjutan. jujur saja, hal itu membuat pikiranku dipenuhi banyak hal. Aku tahu semua tindakan itu dilakukan untuk kebaikannya, tapi aku sedih anakku harus kembali berjuang di meja operasi. Belum lagi, biaya pengobatan yang masih akan terus menanti.

Suamiku bekerja sebagai kuli bangunan dengan penghasilan tak menentu, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sering terbatas. Sepeda motor satu-satunya yang selama ini digunakan suamiku untuk pergi bekerja sudah terjual demi pengobatan anak selama ini.

Terkadang, untuk membeli obat maupun popoknya aku harus meminjam uang. Sementara itu, anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS dan kebutuhan lainnya.

#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp 100.000 saja, kita bisa jadi alasan Nadzira tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Nadzira!

Belum ada aktivitas terbaru penggalang dana
Fundraiser
Bantuan itu bukan sekadar uang lho, TemanBaik!
Dengan menjadi Fundraiser, kamu bisa mengumpulkan uang untuk galang dana ini dengan mengetuk hati teman-temanmu yang ingin membantu.
Bantu Campaign Lainnya
Aku Harus Bekerja Jauh dari Anakku yang Berjuang Menjalani Pengobatan Jantung di Jakarta
Adianto
Rp 548.000
67 hari lagi
Sejak Lahir Kekurangan Oksigen, Rasyid Kini 7 Tahun Berjuang Melawan Cerebral Palsy
Rasyid tanjung
Rp 758.000
41 hari lagi
Mendorong Gerobak Demi Harapan, Pedagang Jajanan Ini Tak Ingin Kehilangan Anaknya Lagi
Jasher Arafat Bayu Guntoro
Rp 16.251.000
36 hari lagi
"Kapan Anakku Bisa Berjalan?" Tangis Ibu untuk Rehana yang Alami Cerebral Palsy
Zoleha asadah
Rp 9.431.000
5 hari lagi
Batuk yang Kami Kira Biasa, Ternyata Menyimpan Vonis Jantung Bocor untuk Arsyla
Sumiyati
Rp 835.000
12 hari lagi
