Demi Anakku Sembuh dari TBC, Aku Rela Bekerja di Ladang dalam Keadaan Sakit Kronis
Rp 70.000 dari Rp 2.910.000
Penggalang Dana
Penerima Donasi
“Aku hanya sendirian mengurus anak sambil bekerja karena istriku jauh bekerja di Malaysia demi membantu melunasi utang keluarga. Entah berapa kali aku ingin menangis menghadapi keadaan yang berat ini. Namun, aku tidak tega setiap melihat anakku kesakitan. Aku harus sabar dan harus mencari cara agar Ia bisa terus pengobatan.” -Salafudin, Orang tua Zuhrufi-
Anakku, Zuhrufi Nafisatun Najwa (13), diuji dengan penyakit TBC. Tak pernah terbayangkan, ketika kesehatan anak sendiri menjadi sesuatu yang sangat mengkhawatirkan, sementara kemampuanku untuk membiayai pengobatan begitu terbatas.Berawal dari batuk dan demam, pihak puskesmas mengatakan anakku sakit tenggorokan. Tapi ternyata penyakitnya tak kunjung sembuh meski obatnya sudah habis. Anakku justru mengalami demam berulang, kepala pusing, sakit perut, muntah-muntah dan turun berat badan drastis.
Hingga akhirnya anakku hilang kesadaran saat upacara di sekolah dan aku membawanya ke rumah sakit. Saat itulah, penyakit anakku terungkap dan sejak itu pikiranku tidak pernah benar-benar tenang. Aku setiap hari harus memikirkan biaya untuk membawanya berobat ke rumah sakit secara rutin.Aku sendiri sudah lama tidak bisa bekerja seperti dulu akibat sakit paru-paru dan batu ginjal. Sementara pekerjaanku sebelumnya sebagai petani dan kuli bangunan sangat mengandalkan tenaga fisik, sehingga aku berhenti bekerja. Utang pun menumpuk karena aku butuh biaya pengobatan dan sehari-hari.
Istriku pun berkorban dengan pergi bekerja ke luar negeri. Kedua anakku sering menangis karena merindukan ibunya. Aku tidak tahu bagaimana menghibur mereka, sebab aku sendiri juga merasakan kehilangan kehadiran istri di rumah. Namun, aku tetap menjalankan tanggung jawab mengurus dan merawat anakku.
Pernah suatu kali, penyakit anakku kambuh. Anakku mengalami sesak napas dan demam tinggi sampai menangis karena menahan sakit, tapi aku tidak punya uang sama sekali. Akhirnya aku mendatangi tetangga untuk meminta pekerjaan di ladang. Meski kondisiku saat itu sedang sakit, tapi anakku jauh lebih penting.Aku ingin anakku bisa sembuh, bisa kembali bersekolah tanpa rasa sakit. Namun, pengobatan anakku masih panjang. Aku kesulitan biaya untuk biaya transportasi ke rumah sakit karena aku tidak memiliki kendaran, obat yang tidak ditanggung BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp 100.000 saja, kita bisa jadi alasan Zuhrufi tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Zuhrufi!
Belum ada aktivitas terbaru penggalang dana
Fundraiser
Bantuan itu bukan sekadar uang lho, TemanBaik!
Dengan menjadi Fundraiser, kamu bisa mengumpulkan uang untuk galang dana ini dengan mengetuk hati teman-temanmu yang ingin membantu.
Bantu Campaign Lainnya
Tatapan Mata Kosong Itu Menjadi Awal Perjuangan Anakku Melawan Gagal Ginjal Stadium 5
Siti Maulida
Rp 1.105.000
372 hari lagi
Aku rela Menumpang Truk Demi Membawa Istriku yang Sakit Diabetes Melitus ke rumah sakit
Samsiah
Rp 493.000
64 hari lagi
Tangisan Fauzi Adalah Harapanku, Aku Harus Berjuang Merawat Fauzi yang Infeksi TB Otak
Nur Solihat
Rp 5.801.008
47 hari lagi
Aku Menggendong Tubuh Lemah Anakku Naik Angkot Demi Pengobatan Jantungnya
Shanique angria rachmana
Rp 1.385.000
69 hari lagi
Di tengah Keterbatasan Ekonomi Keluarga, Tami Harus Transfusi Darah Seumur Hidup
teti Nurhayati
Rp 1.435.000
27 hari lagi
