Setelah Kehilangan Anak, Aku Kembali Diuji Melihat Syafa Berjuang Melawan Penyakit
Rp 20.000 dari Rp 19.170.000
Penggalang Dana
Penerima Donasi
“Aku sudah trauma karena pernah kehilangan anak berkali-kali! Aku seharusnya punya 5 anak, tapi 3 anakku yang lain sudah meninggal. Kini, anakku yang masih hidup justru harus menghadapi penyakit berat tak lama sejak Ia lahir. Dokter mengatakan anakku kemungkinan tidak bisa berjalan dan bicara.”

“Kini, Ia berkomunikasi dengan menunjuk jika menginginkan sesuatu. Ia juga giat belajar berjalan, berupaya berdiri sendiri tanpa bantuan meski kakinya gemetar karena belum mampu. Namun, Ia akhirnya menangis karena selalu gagal berdiri dan terjatuh. Sedih sekali aku melihat anakku seperti itu…” -Fitri Suryani, Orang tua Syafa-


Baru 20 hari usia Syafa saat itu, tiba-tiba tubuhnya tampak menguning, pusarnya mengeluarkan darah dan perutnya terasa mengeras. Aku bingung apa yang terjadi padanya, tapi keluargaku panik dan membawanya ke rumah sakit.

Berhari-hari anakku dirawat di inkubator, rasanya hatiku hancur! Meski kondisinya perlahan membaik, tapi seiring waktu berat badan anakku mulai menurun. Ia sering sakit dan dibawa ke dokter, ternyata hasilnya anakku mengalami infeksi paru-paru. Tubuhku bagai dijatuhkan karena terkejut.

Penyakit seperti sulit meninggalkan tubuhnya, pada usia 1 tahun, anakku didiagnosa mengalami gizi buruk. Tumbuh kembangnya yang berbeda dari anak lainnya membuatku bertanya, kapan Ia bisa berbicara dan memanggilku Ibu? Kapan Ia bisa berlari dan bermain seperti anak lainnya?

Setiap malam, saat Syafa tertidur, aku sering memandang wajahnya. Aku melihat anakku yang masih begitu kecil terus memikul banyak penyakit. Dalam hati, aku memanjatkan doa agar Ia selalu diberikan kekuatan, tidak menyerah dan suatu hari bisa berjalan, berbicara, sekolah dan membanggakan orang tuanya.

Perjalanan anakku semakin berat, anakku harus sering bolak-balik rumah sakit dengan memakan waktu 10 jam perjalanan. Sekali jalan, aku harus mengeluarkan uang sampai ratusan ribu sekali jalan. Rasanya sangat berat, belum lagi untuk kebutuhan sehari-hari.

Pernah aku membeli susu dan pampers anakku harus dibantu dana oleh teman-teman yang patungan. Aku sangat berterima kasih, tetapi dalam hati aku menangis. Aku merasa belum layak menjadi orang tua, karena harus menanti pertolongan demi memenuhi kebutuhan anakku.

Penghasilan keluargaku terbatas, suamiku bekerja sebagai buruh tani dan terkadang mengantarkan air minum. Sementara aku bekerja sebagai tenaga honorer dengan penghasilan Rp400 ribu sebulan. Tak jarang aku mengambil lembur agar dapat upah tambahan.

Saat ini, anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS dan kebutuhan lainnya.
#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp 100.000 saja, kita bisa jadi alasan Syafa tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Syafa!

Belum ada aktivitas terbaru penggalang dana
Fundraiser
Bantuan itu bukan sekadar uang lho, TemanBaik!
Dengan menjadi Fundraiser, kamu bisa mengumpulkan uang untuk galang dana ini dengan mengetuk hati teman-temanmu yang ingin membantu.
Bantu Campaign Lainnya
Jantung Gavin Bocor, Ayahnya Kini Berjuang Keras Agar Pengobatannya Tak Terhenti
Jonar Sinaga
Rp 45.000
89 hari lagi
Enam Tahun Menanggung Derita, Hana Tak Kunjung Sembuh dari Peradangan Usus dan Luka Lambung
Rina Tri Wahyuti
Rp 0
91 hari lagi
Saat Rumah Ludes Dilahap Api, Anakku Masih Berjuang Melawan Tumor dan Jantung Bocor
Nur Hayati
Rp 9.500.000
28 hari lagi
Dari Raja Ampat ke Jakarta, Perjuangan Alesha Melawan Penyakit Jantung Sejak Lahir
Rini Putri Sari
Rp 7.688.000
9 hari lagi
Bertaruh Harapan ke Jakarta, Demi Jantung Kecil Naziya yang Terus Berjuang
Muhammad Ayatullah Komaini
Rp 2.993.002
73 hari lagi
