Dari Demam dan Sesak, Ghaitsa Harus Menghadapi Down Syndrome dan Jantung Bocor
Rp 908.000 dari Rp 10.437.000
Penggalang Dana
Penerima Donasi
“Anakku mengalami sakit panjang! Ia demam, batuk parah, mual, muntah, hingga luka di tubuhnya harus aku hadapi berbulan-bulan. Akhirnya, tepat di hari ulang tahunnya, anakku justru harus menjalani perawatan di IGD rumah sakit.”

“Selama sekitar satu minggu, anakku tidak mau minum susu, makan, bahkan minum air putih. Ia mengalami dehidrasi dan harus mendapatkan perawatan selama empat hari. Hari yang seharusnya menjadi momen untuk merayakan ulang tahunnya justru kami lewati dengan kekhawatiran di rumah sakit.” -Nopi Sopiati, Orang tua Ghaista-

Aku masih ingat betul malam ketika napas anakku, Ghaitsa Kamila, terdengar berat. Sejak pagi, memang tubuhnya sudah demam, batuk, flu hingga sesak napas. Tak pakai pikir panjang, kekhawatiran membuatku segera membawa anakku ke rumah sakit.
Namun, dokter mengatakan anakku boleh pulang karena kondisinya baik-baik saja. Jujur, hal itu membuatku justru tidak tenang. Baru pulang beberapa jam, aku kembali membawa anakku ke rumah sakit yang sama. Hasilnya lagi-lagi sama, dokter bilang anakku tidaka ada masalah kesehatan.

Aku kira aku sudah bisa tenang saat itu, tapi sekitar pukul 1 dini hari karena anakku mengalami sesak napas. Dokter mengatakan paru-paru anakku mengeras dan diminta dirujuk ke rumah sakit lain. Sayangnya, di rumah sakit lain anakku kembali dipulangkan karena kondisinya tak dianggap serius.

Sejak itu, hari-hariku terasa berat. Anakku semakin sering sesak napas sampai menangis. Rasanya berat sekali melihat kondisi anakku, tapi aku juga tidak tahu harus membawanya ke mana lagi. Aku hanya bisa memeluknya hingga Ia tenang.
Akhirnya aku kembali membawa anakku ke rumah sakit lagi ke sekian kalinya. Saat itu, anakku masuk IGD dan dipasangi selang NGT pada hidungnya sebagai jalur napasnya. Anakku didiagnosa memiliki down syndrome, jantung bocor, GERD, LPR, serta GDD.

Penyakit pada tubuhnya membuat berat badan anakku sulit bertambah, pola makannya dan apa yang Ia konsumsi harus dijaga. Anakku harus menjalani terapi rutin dan rangkaian pengobatan, tapi biaya yang aku butuhkan juga sulit aku sanggupi.
Suamiku menjadi satu-satunya yang menjadi sumber pencari penghasilan untuk keluarga. Ia berjualan kacamata dari satu tempat ke tempat lain, termasuk menawarkan dagangannya ke sekolah. Penghasilannya terbatas, itupun disisihkan untuk modal jualan lagi.

Sementara aku tidak bisa meninggalkan anakku untuk bekerja, karena anakku sangat aktif dan harus terus diawasi. Pernah suatu hari Ia menyentuh bagian bawa penggorengan sampai 3 jarinya mengalami luka bakar. Ia benar-benar tidak bisa ditinggal sendirian, bahkan Ia akan berlari keluar ketika melihat pintu terbuka.
Saat ini, anakku masih sangat membutuhkan biaya transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS dan kebutuhan lainnya.

Belum ada aktivitas terbaru penggalang dana
Fundraiser
Bantuan itu bukan sekadar uang lho, TemanBaik!
Dengan menjadi Fundraiser, kamu bisa mengumpulkan uang untuk galang dana ini dengan mengetuk hati teman-temanmu yang ingin membantu.
Bantu Campaign Lainnya
13 Tahun Selvi Bertahan Melawan Hidrosefalus, Kini Masih Menanti Operasi Penyelamat
Selvi
Rp 1.560.000
17 hari lagi
Sejak Lahir Tubuhnya Membiru, Kini Radhika Harus Berjuang Melawan Kelainan Jantung
Enik Ulviyah
Rp 470.000
83 hari lagi
Setelah Kehilangan Anak, Aku Kembali Diuji Melihat Syafa Berjuang Melawan Penyakit
Fitri Suryani
Rp 1.895.003
39 hari lagi
Perutnya Nyeri Tak Tertahankan, Ammar Berjuang dari Autoimun
Muhammad Ammar rizki
Rp 10.269.000
35 hari lagi
Bertaruh Harapan ke Jakarta, Demi Jantung Kecil Naziya yang Terus Berjuang
Muhammad Ayatullah Komaini
Rp 3.003.002
22 hari lagi
