Benihbaik_2026-08-10_17863706246a79da401822c.jpeg
Kesehatan

Pecah Pembuluh Darah Otak Merenggut Ingatannya, Aku Menjadi Orang Asing di Mata Suamiku Sendiri

Rp 1.216.000 dari Rp 8.100.000

73 hari lagi

Penerima Donasi

anon
Waing Identitas terverifikasi user
anon
Surat Rujukan Tervalidasi oleh Tim Benihbaik.com user
anon
Surat Hasil Laboratorium Tervalidasi oleh Tim Benihbaik.com user
anon
Surat Rincian Biaya Pengobatan Tervalidasi oleh Tim Benihbaik.com user
anon
Rekening Penerima Rekening Penerima terverifikasi user
anon
Lokasi Kab. Lebak

“Hal yang paling menyayat hati adalah ketika suamiku kehilangan hampir seluruh ingatannya. Bayangkan, empat bulan lamanya Ia tidak mengenali aku! Bahkan, anak-anak dan orang sering berada di sekelilingnya Ia tidak ingat. Tatapannya sering kosong, aku seperti kehilangan suamiku meski Ia di depan mata.”

“Dulu Ia merupakan tulang punggung keluarga, bekerja keras sebagai sopir angkot demi menghidupi keluarga. Kini Ia hanya bisa menatap langit-langit kamar dan tak bisa melakukan apapun. Melihatnya menangis karena merasa jadi beban keluarga, adalah luka bagiku.” -Yayat, Istri dari Waing-

Suamiku, Waing (62 thn), tiba-tiba mengeluhkan sakit kepala yang luar biasa hebat sambil memegangi kepalanya. Aku cukup panik karena tidak pernah melihat kondisinya separah itu. Tanpa pikir panjang, aku langsung membawanya ke rumah sakit.

Semua berubah menjadi ketakutan ketika dokter mengatakan pembuluh darah di otak suamiku pecah! Aku semakin terkejut lagi karena suamiku hanya bisa diselamatkan melalui operasi. Sepuluh hari Ia dirawat di rumah sakit setelah tindakan, di waktu itu pula kegelisahan dan doa aku panjatkan agar kondisinya membaik.

Namun, harapanku runtuh! Sudah setahun penuh tubuh suamiku tak mampu bergerak karena stroke. Segala aktivitasnya membutuhkan bantuan biaya. Aku terus berupaya membawanya terapi dan merawatnya tanpa menyerah sedikitpun. 

Siapa sangka, keajaiban itu benar-benar datang! Suamiku sudah mulai bisa berjalan kembali meski langkahnya tertatih dan harus dibantu. Namun, ingatannya yang hilang belum juga kembali sepenuhnya. Ia masih sering lupa, sulit berkonsentrasi dan sering sakit kepala hebat.

Meski melewati begitu banyak penderitaan, tapi suamiku tak pernah menyerah. Setiap hari Ia selalu berkata, “aku ingin cepat sembuh, sehat lagi, supaya bisa kerja seperti dulu.” Rasanya bahagia sekali mendengarnya kalimat positif itu. 

Biaya pengobatan suamiku bukanlah hal yang mudah bagiku. Kini hanya aku yang mencari nafkah dengan berjualan sayuran hingga menjadi asisten rumah tangga. Penghasilanku terbatas, bahkan sering tidak cukup untuk makan sehari-hari.

Perabotan dan barang di rumah sudah habis terjual. Tak jarang aku terpaksa meminjam uang kepada keluarga dan tetangga agar suamiku bisa terus berobat. Meski pernah merasa sangat buntu, aku juga merasa pertolongan Tuhan itu nyata. 

Saat itu aku pernah menjual barang terakhir di rumah untuk ongkos membawa suamiku berobat. Namun, uang itu belum cukup karena jarak ke rumah sakit jauh. Lalu tiba-tiba ada tetangga yang iba dan menawarkan untuk membawa suamiku ke rumah sakit. Kebaikan itu menjadi penyemangat untukku terus bertahan. 

#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp 100.000 saja, kita bisa jadi alasan Waing tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Waing!   

pak

Belum ada aktivitas terbaru penggalang dana

Fundraiser

gamber-fundraiser

Bantuan itu bukan sekadar uang lho, TemanBaik!

Dengan menjadi Fundraiser, kamu bisa mengumpulkan uang untuk galang dana ini dengan mengetuk hati teman-temanmu yang ingin membantu.

Jadi Fundraiser

Bantu Campaign Lainnya