Kategori Campaign
Panggilan Mendesak

Keagamaan
Gedung Gereja St Petrus Bao One Hampir Ambruk
Gereja St Petrus Bao One merupakan gereja katolik yang berada di Desa Kokotobo, Dusun Bao one, Adonara Tengah, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Kondisi gedung gereja yang sudah berdiri sejak 1982 ini seperti hampir punah karena termakan usia.Lantainya masih dari semen, atapnya terbuat dari seng yang sudah banyak bolongnya, dan dindingnya juga sudah banyak yang diplester. Apalagi setelah musim siklon seroja, yaitu musim ini menyebabkan angin kencang, banjir, hingga longsor. Akibatnya, kondisi gereja semakin memprihatinkan dan atapnya rusak parah. Terpaksa para jemaat harus menumpang ibadah di gedung balai dusun jika cuaca sedang buruk. Masyarakat desa rata-rata memiliki latar belakang ekonomi menengah ke bawah, sehingga terkendala biaya untuk melakukan renovasi gereja.Saat ini sudah ada 525 jemaat yang beribadah di gereja yang berukuran 10 m x 20 m ini. Meski kondisi gedung sangat terbatas, tetapi para jemaat masih sangat antusias dan semangat dalam beribadah.Masyarakat selama ini sudah berupaya mengumpulkan batu untuk renovasi gereja. Namun untuk membeli bahan bangunan lain, sayangnya masyarakat belum mampu.#TemanBaik, mari bantu gereja St Petrus Bao One agar bisa dilakukan renovasi dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul
Rp 23.559.015
2 hari lagi
Dari Rp 100.000.000
Donasi

Pendidikan
Yuk! Bantu Penuhi Fasilitas Madrasah, Santrinya Semangat Belajar
Dukungan dari TemanBaik sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana anak-anak belajar agama Islam. Hai TemanBaik, Aku Alda dari Banyuwangi. Kegiatan sehari-hariku mengajar di Madrasah Diniyah Syeikh Syarif Hidayatulloh yang merupakan warisan kedua orang tuaku. Aku berniat meneruskan perjuangan mereka dalam memperjuangkan agama islam di madrasah ini.Alhamdulillah sekarang jumlah santrinya sekitar 30 anak, rata-rata mereka dari keluarga kurang mampu. Jadi madrasah inilah yang bertanggung jawab dalam memenuhi sarana penunjang proses belajar mengajar mereka di sini. Kondisi Madrasah Diniyah Syeikh Syarif Hidayatulloh belum punya sarana yang memadai. Bahkan adzan dikumandangkan tanpa adanya alat pengeras suara, tempat Al-quran rusak. Intinya tempat belajar di sini masih belum layak sepenuhnya. Harapan kami dengan adanya sarana prasarana yang memadai dan layak, anak anak santri lebih bersemangat dalam belajar mengaji dan mempelajari agama Islam. TemanBaik, yuk dukung TemanKita di Madrasah Diniyah Syeikh Syarif Hidayatulloh supaya belajarnya lebih nyaman. Bantuan TemanBaik dapat disalurkan dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini ya!
Dana terkumpul
Rp 225.003
10 hari lagi
Dari Rp 10.000.000
Donasi

Anak
Tawa Nadira Berganti Teriakan Kesakitan Sejak Sakit Radang Selaput Otak
‘Maaf Bu, operasi pengambilan cairan melalui sumsum tulang belakang Nadira tidak berhasil,’ kata dokter dengan suara berat dan sukses menghantam perasaanku.Anakku dihadapkan dua pilihan yang tak sanggup diterima, antara terus hidup atau cacat seumur hidup. Tapi aku percaya masih ada harapan, paling tidak obat yang bisa meringankan sakit yang dia rasakan. -Siti Haifah, Orang tua Nadira-Tepat di hari ulang tahun pertamanya, Nadira Putri Anindita (2 thn) tak seceria dan seaktif biasanya. Air mata tanpa henti tawa riangnya, tubuh kecilnya yang dulu penuh semangat kini terkulai lemas. Beberapa hari kemudian Ia bahkan memukul-mukul kepalanya sendiri hingga berakhir demam.Namun, anakku tak kunjung sembuh meski sudah minum obat. Puluhan jarum infus sudah dimasukkan ke tubuhnya, tapi Ia justru semakin lemas dan berujung koma di kamar rumah sakit. Hasil diagnosa akhirnya keluar, dokter bilang anakku mengalami radang selaput otak (meningitis).Sejak itu, lebih banyak rasa sakit yang harus dilalui Nadira dalam hari-harinya. Ia akan menjerit kesakitan seperti orang melahirkan setiap akan BAB, karena aku tidak mampu beli susu khusus untuknya. Tubuhnya kaku, makan dan minum harus menggunakan selang NGT yang ditancapkan di hidungnya menuju perutnya. Sampai saat ini Ia belum bisa bicara dan berjalan, dokter merekomendasikannya sepatu khusus untuk belajar berjalan. Tapi aku tidak punya biaya untuk membelinya, harganya cukup mahal. Jujur, aku merasa bersalah sekaligus sedih melihat anak lain seusianya yang sudah bisa berlari dan bicara. Suamiku bekerja hanya sebagai buruh bangunan, kadang Ia juga mengambil pekerjaan lain sebagai pengemudi ojek online. Tapi penghasilannya bekerja dari pagi sampai malam juga ternyata tidak cukup. Bahkan kadang anak saya tidak kontrol rutin karena tidak ada ongkos, padahal hanya dari rumah di Bekasi ke rumah sakit di Jakarta.Belum lagi biaya pengobatan yang tidak dicover BPJS, terapi, susu dan lainnya. Tapi aku selalu ikhlas merawatnya, aku berharap suatu saat Ia akan sembuh walau perlahan dan butuh waktu yang panjang.#TemanBaik, mari bersama kita meringankan sakit Nadira dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul
Rp 9.629.999
11 hari lagi
Dari Rp 9.600.000
Donasi