Panggilan Mendesak

camp
Anak

Aku Rela Kehilangan Segalanya, Asal Anakku Bisa Sembuh dari Jantung Bocor

“Demi mengumpulkan biaya untuk membawa anakku berobat ke Jakarta, rumah yang selama ini menjadi tempat keluargaku berteduh terpaksa kujual, tabungan sekolah yang kupersiapkan untuk masa depan anakku yang lain harus digunakan, bahkan aku memilih mengundurkan diri dari pekerjaanku sebagai sales kendaraan agar bisa sepenuhnya mendampingi perjuangannya berobat ke Jakarta.”“Aku yakin, setiap tetes keringatku tidak ada yang sia-sia. Aku percaya tidak ada satu pun tetes keringat, pengorbanan, dan doa yang sia-sia. Di setiap sujud, aku memohon agar Tuhan menguatkan langkah kecil anakku untuk terus bertahan melawan penyakitnya. Aku percaya, akan datang hari ketika Ia tersenyum tanpa rasa sakit sama sekali.”  -Salman, Orang tua Alsava-Sejak lahir, aku sudah merasakan ada yang berbeda pada kondisi anakku, Alsava Zyannisa Amanda (4 tahun). Namun, karena banyak keluarga mengatakan bahwa kondisi itu wajar terjadi pada anak-anak, aku pun mencoba menenangkan hati.Meski begitu, sebagai orang tua, ada perasaan cemas luar biasa di hati kecilku melihat kondisi anakku. Selama 6 bulan lamanya, aku terus mencari informasi tentang kondisi yang dialami anakku melalui media sosial hingga bertanya pada-teman-teman. Banyak yang menduga bahwa Alsava mengalami kelainan jantung.Akhirnya, aku pun memberanikan diri untuk membawa anakku ke rumah sakit.  Kekhawatiranku pun menjadi kenyataan. Dokter mendiagnosis anakku mengalami jantung bocor. Meski sebelumnya aku sudah mencurigainya, kenyataan itu tetap terasa seperti petir yang menyambar di siang bolong. Air mataku tak henti-hentinya mengalir, duniaku rasanya runtuh, apalagi anakku dirujuk untuk melanjutkan pengobatan dari Aceh ke Jakarta. Dengan segala keterbatasan dan dukungan keluarga, aku menguatkan hati untuk membawa anakku berjuang ke Jakarta demi kesembuhannya.Saat ini, anakku sudah menjalani operasi jantung. Perlahan, warna kebiruan di tubuhnya mulai berkurang dan detak jantungnya sudah kembali normal. Namun, perjuangan kami belum berakhir. Hidupku saat ini sepenuhnya terpusat pada anakku, mulai dari mengatur segala perawatan, obat dan asupan yang dibutuhkannya.Syukurlah, di balik tubuh kecilnya, anakku memiliki semangat yang begitu besar. Setiap kali menjalani pengobatan, ia selalu berkata ingin segera pulang karena rindu bertemu kakak dan neneknya. Ia juga tak pernah lupa menelepon keluarga di rumah untuk melepas rindu. Sayangnya, perjalanan menuju kesembuhan Alsava masih panjang. Ia masih harus menjalani operasi lanjutan beberapa tahun ke depan. Sementara itu, biaya pengobatan terus bertambah, sedangkan aku selama ini mengandalkan biaya dari bantuan keluarga jika ada.Sementara itu, anakku membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp 100.000 saja, kita bisa jadi alasan Alsava tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup  Alsava!   
Dana terkumpul Rp 5.931.000
8 hari lagi Dari Rp 5.800.000
Donasi
camp
Kesehatan

Matanya Berjamur Demi Bekerja untuk Keluarga, Pak Warjo Kehilangan Penglihatan

Dulu, Pak Warjo adalah tulang punggung keluarga yang tak pernah mengenal lelah. Ia rela bekerja keras dari pagi hingga larut malam. Bahkan, Ia mengambil resiko dalam bekerja yang membuat matanya terkena percikan las, debu dan membuatnya sering begadang.Siapa sangka, pengorbanan itu justru meninggalkan luka yang tak terbayangkan. Sedikit demi sedikit, kondisi matanya semakin memburuk hingga merenggut penglihatannya. Akhirnya, Pak Warjo tak lagi bisa bekerja. Kini, sekedar memenuhi kebutuhan sehari-hari saja kesulitan, apalagi untuk biaya pengobatannya.Sejak tahun 2024, hidup Bapak Warjo (41 tahun) berubah drastis. Mata kirinya yang dulu membantu mencari nafkah untuk keluarga kini mengalami kerusakan serius. Warnanya berubah menjadi abu-abu, sering terasa perih, silau, berair, bahkan tampak menonjol hingga mengganggu aktivitasnya sehari-hari.Setiap kali rasa sakit itu datang, Pak Warjo harus menahan pusing hebat yang menusuk hingga membuat air matanya terus mengalir. Ia hanya bisa meredakan nyeri dengan obat tetes mata dan membutuhkan bantuan orang lain untuk melakukan aktivitas sederhana.Setelah menjalani pemeriksaan, dokter menyampaikan kabar yang begitu berat. Terdapat infeksi jamur yang telah mengenai retina matanya. Jika tidak segera mendapatkan penanganan lebih lanjut, Pak Warjo terancam kehilangan penglihatannya secara permanen.Beliau harus menjalani operasi lanjutan, tapi Ia tidak ada biaya transportasi dari rumahnya di Indramayu ke rumah sakit di Bandung. Ia juga tidak memiliki wali yang bisa membantu biaya pengobatannya.Pak Warjo sudah berjuang menjalani operasi pertamanya dengan harapan bisa kembali melihat dan bekerja seperti sedia kala. Namun, perjuangannya belum berakhir. Kondisinya masih membutuhkan operasi lanjutan dan pengobatan intensif.Sayangnya, keterbatasan ekonomi menjadi hambatan besar. Pak Warjo tidak memiliki biaya transportasi untuk menempuh perjalanan dari Indramayu ke rumah sakit di Bandung. Ia juga tidak memiliki pendamping yang dapat membantu memenuhi kebutuhan selama menjalani pengobatan.Sejak sakit, Pak Warjo sudah tidak mampu bekerja secara maksimal seperti dulu. Meski begitu, ia tak pernah menyerah. Dengan sisa kekuatan dan penglihatan yang dimilikinya, Pak Warjo terus berusaha mengerjakan apapun yang ia bisa demi bertahan hidup. Selain biaya transportasi, masih ada kebutuhan obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS dan harus dibeli secara mandiri.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp 100.000 saja, kita bisa jadi alasan Pak Warjo tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Pak Warjo!   
Dana terkumpul Rp 1.280.008
8 hari lagi Dari Rp 4.242.000
Donasi
camp
Anak

Senyum Getir Fayzel di Tengah Kerusakan Organ Hatinya yang Terus Memburuk

“Saat dokter mengatakan anakku mengalami gangguan organ hati serius, momen itu menjadi titik yang menghancurkanku. Lututku lemas, dadaku sesak menahan tangis. Di hadapanku terbaring tubuh anakku yang begitu rapuh, membuatku terus bertanya, mampukah Ia bertahan dari penyakit yang mengancam nyawanya setiap detik?”“Sejak itu, suamiku terpaksa meninggalkan pekerjaannya karena fokus mendampingi anak berobat. Setiap bulan, anakku harus dibawa kontrol rutin dari Lampung ke Jakarta. hanyalah guru honorer dengan penghasilan yang tak seberapa, itupun aku sering cuti demi anak. Kondisi ini membuat keluarga kami kesulitan ekonomi. bahkan kebutuhan sehari-hari kini sering bergantung bantuan keluarga.” -Asri Bunga, Orang tua Fayzel-Fayzel Ghava Kareem (9 bln) mulai menunjukkan gejala sakitnya saat usianya baru 1 minggu. Tubuhnya tiba-tiba tampak berwarna kuning. Awalnya aku mencoba menenangkan diri, berpikir mungkin ini hanya kuning biasa pada bayi. Namun, kian hari warna kuning itu tak memudar, justru makin pekat dan mengkhawatirkan.  Hingga akhirnya dokter mengatakan ada yang tidak biasa. Aku masih ingat betul bagaimana paniknya aku saat mendengar kenyataan pahit yang terjadi pada anakku. Ternyata, anak yang baru saja ku peluk dengan rasa syukur, harus menghadapi kelainan metabolik-genetik yang menyerang fungsi hatinya.Penyakit itu menyebabkan organ hati anakku membesar dan mengeras hingga membuat perutnya membengkak. Kulit hingga matanya kuning, tubuhnya mengalami anemia, trombositnya rendah, pertumbuhannya terganggu, bahkan beresiko pendarahan. Saat ini, anakku tidak bisa beraktivitas seperti bayi seusianya. Ia mudah lelah, napsu makannya sering menurun dan perkembangan motoriknya terhambat. Dalam kondisi tertentu, anakku bisa beresiko untuk menjalani transplantasi hati jika kerusakannya semakin parah.Namun dibalik tubuhnya yang lemah, Fayzel adalah anak yang luar biasa kuat. Tangisnya tak pernah lama meski Ia sakit setiap waktu. Ia tetap tersenyum setiap kali diperiksa dokter, seolah ingin menguatkanku bahwa ia belum menyerah. Senyum kecil itulah yang menjadi sumber kekuatanku. Aku percaya, Tuhan masih menyimpan harapan untuknya.Kini Fayzel masih dalam pemantauan intensif. Perjuangannya belum selesai. Namun di tengah ikhtiar untuk menyelamatkan anakku, aku dihadapkan pada kenyataan biaya yang tak sedikit. Untuk kontrol saja, kami harus menyeberang pulau dengan biaya transportasi yang besar. Belum lagi obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS, susu khusus, serta kebutuhan hariannya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Fayzel tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Fayzel!
Dana terkumpul Rp 20.102.003
7 hari lagi Dari Rp 19.970.000
Donasi

Pilihan Campaign