Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Anak
Ditinggal Ayah, Ibu Berjuang Sendiri Mendampingi Haura yang Alami Sederet Penyakit
Cobaan semakin berat ketika Ayah Haura memilih pergi meninggalkan keluarga saat usia haura baru 2 bulan, tanpa kabar dan tanpa tanggung jawab. Tinggallah Ibu dari Haura yang harus bertahan sendiri, merawat empat anaknya yang masih kecil sambil merawat Haura yang sakit.Setiap minggu, Ibunya harus bolak-balik puluhan kilometer untuk membawa Haura ke rumah sakit. Tapi seringkali pada akhirnya langkah itu terhenti karena tidak ada biaya. Sementara Ibunya hanya mengandalkan sisa tabungan yang makin menipis karena tidak punya penghasilan… -Syafrini, orang tua Haura-Haura Adzkia Shalfina (21 bln) lahir secara prematur, tubuh mungilnya belum siap lahir ke dunia. Sejak pertama kali membuka mata, Ia sudah harus berjuang di ruang NICU. Di sana, napasnya kerap terhenti seolah Ia kelelahan untuk bertahan.Suara napasnya lirih, tubuhnya lemah, bahkan untuk menyusu pun Ia tidak mampu. Alat medis menjadi penopang hidupnya di hari-hari awal Ia lahir. Setelah pulang ke rumah, perjuangan itu tak juga mereda dan rasa cemas orang tuanya justru semakin menghantui.Kondisi Haura tak menunjukkan perubahan, dokter saat itu mendiagnosa Haura hanya mengalami gizi buruk. Namun kondisinya tetap mengkhawatirkan, dengan hati berdebar dan penuh ketakutan, orang tuanya membawanya ke rumah sakit.Saat itulah, kenyataan pahit satu per satu terungkap. Ada lubang di jantung kecilnya, Ia juga didiagnosa laringomalasia (jaringan pita suara lemah), GERD, hipertiroid, serta kekurangan gizi. Ia harus makan dan minum menggunakan selang NGT yang dimasukkan melalui hidungnya, karena napasnya sesak setiap menyusui.Hidup Haura sejak itu tak pernah lepas dari tabung oksigen untuk bisa terus bernapas. Ia sering muntah, napasnya sering bunyi, mudah diare, bahkan sulit buang air. Ia tidak boleh kelelahan sama sekali, karena beresiko kesehatannya menurun drastis. Tak ada yang bisa menggambarkan perih hati Ibunya menyaksikan Haura sudar menderita sejak lahir, apalagi jika Haura harus masuk rumah sakit. Demi pengobatan anaknya, ibunya rela menjual motor, telepon genggam hingga meminjam uang ke banyak orang. Padahal kebutuhan terus berdatangan, Haura masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, alat medis, dan kebutuhan lainya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan haura tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup haura!
Dana terkumpul
Rp 16.409.023
2 hari lagi
Dari Rp 42.462.000
Donasi
Kesehatan
Jadi Korban Tabrak Lari, Pengemudi Ojek Online Berjuang Sembuh dari Patah Kaki dan Betis Rusak
“Memasuki usia 55 tahun, aku mengalami kecelakaan ketika bekerja. Motor yang aku kendarai diserempet mobil yang melaju kencang, lalu pengendaranya pergi begitu saja tanpa rasa tanggung jawab. Tubuhku terhempas ke jalan, kaki kananku patah, dan betis bagian bawahku hancur terseret aspal.” “Sudah 7 bulan aku hanya bisa terbaring menahan sakit. Aku tak lagi mampu bekerja, tak punya penghasilan sepeser pun untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga maupun biaya berobat. Setiap hari aku hanya bisa berharap pada bantuan saudara, namun aku sadar mereka pun memiliki keterbatasan.”Aku, Bangun Swido Sutarko, seorang pengemudi ojek online yang dulu setiap hari menghabiskan waktu di jalan demi mencari nafkah untuk keluarga. Kini hanya bisa terbaring lemah di tempat tidur sambil menahan rasa sakit dan berharap bisa kembali sembuh.Sudah 4 kali aku menjalani operasi pada kaki kananku karena kerusakannya sangat parah. Namun hingga sekarang, luka di kakiku masih menganga dan belum bisa ditambal kulit. Setiap hari rasa nyeri itu terus datang tanpa henti. Telapak kakiku terasa panas seperti terbakar, membuatku sulit beristirahat dengan tenang. Operasi lanjutan mungkin akan aku jalani karena luka pada kakiku masih menganga dan belum ditambal kulit. Namun, jangankan untuk pengobatan lanjutan, untuk makan sehari-hari saja aku kesulitan biaya. Rasa nyeri tak hanya datang dari luka di kakiku, tapi juga dari perutku yang harus menahan lapar karena makan satu kali sehari demi berhemat. Semua pengorbanan ini tak lepas dari rasa cinta yang sangat besar pada anak-anakku.Sebagai seorang ayah, aku hanya ingin anak-anakku tetap bisa sekolah dan makan dengan layak. Semua yang kumiliki selalu kuutamakan untuk mereka, karena aku ingin mereka memiliki masa depan yang lebih baik dibanding kehidupan ayahnya yang penuh perjuangan.Sedikit demi sedikit harta di rumah sudah aku jual demi bertahan hidup dan biaya pengobatan. Tapi semua itu hanya cukup untuk sementara waktu, sementara proses kesembuhanku masih panjang. Aku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Pak Bangun tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Pak Bangun!
Dana terkumpul
Rp 1.230.000
11 hari lagi
Dari Rp 5.000.000
Donasi
Anak
Hari-hari Habibie Dipenuhi Tangis, Jarum Suntik, dan Perjuangan Melawan Sakit
“Penyakit membuat kondisi dada anakku membusung ke depan, tulang belakang mulai melengkung, sering berkeringat, gigi depan atas sudah habis, berat badan hanya sekitar 7,5 kilogram.”“Ia mudah lelah, belum bisa berjalan, belum bisa berbicara, dan masih hanya bisa merangkak atau ngesot. Untuk makan pun terbatas, bahkan susu melalui selang NGT hanya sekitar 60 ml setiap pemberian karena lambungnya belum mampu menampung lebih banyak.” -Euis Helawati, Orang tua Habibie-Anakku, Habibie Ihtisyam Naji (3 thn), sudah harus berjuang lebih keras dibanding anak-anak pada umumnya. Di usia 8 bulan, Ia mengalami batuk dan demam tinggi. Dokter menyatakan bahwa ada bercak pada paru-parunya dan harus minum obat rutin. Penyakitnya sempat dinyatakan sembuh, tapi kelegaan itu tak bertahan lama. Anakku tetap sering mengalami demam, bahkan berat badannya tak kunjung naik. Aku merasa ada hal tidak beres yang terjadi pada anakku. Setelah itu, fakta lebih berat akhirnya terungkap.Anakku didiagnosa sakit jantung! Hatiku rasanya bagai terhentak keras saat mendengar kabar buruk itu. Hal yang lebih menyakitkan lagi, kebocoran pada jantungnya ada di dua titik dan disertai pembengkakan. Ia harus segera melanjutkan pengobatan dari Subang, Jawa Barat ke Jakarta. Tanpa pikir panjang, aku langsung menguras semua tabungan asal anakku bisa berobat. Namun, saat akan pemeriksaan lanjutan di Jakarta, anakku mengalami demam tinggi. Akhirnya tindakan ditunda, dengan berat hati aku terpaksa membawa anakku kembali ke kampung halaman dengan sia-sia. Tidak ada hal yang lebih meresahkan dari ketidakpastian. Dua minggu anakku dirawat di rumah sakit daerah, syukurlah kondisinya membaik dan tiba saat Ia menjalani pemeriksaan lanjutan. Namun, kabar berikutnya yang harus ku terima, bagai tamparah keras.Ternyata, selain sakit jantung, anakku didiagnosa anemia dan infeksi berulang hingga harus menerima transfusi darah. Sejak itu, hidup yang dijalani anakku adalah tentang masuk ruang perawatan rumah sakit hingga jarum suntik.Di tengah keterbatasan, ada rasa takut yang terus menghantui jika pengobatan anakku terhenti. Ia bisa mengalami gizi buruk dan keterlambatan tumbuh kembang yang lebih parah. Secara finansial, perjuangan ini sudah melewati batas kemampuan. Segala yang bisa dijual demi pengobatan anak telah dilepas, motor, sepeda listrik, bahkan rumah pun nyaris menjadi pilihan terakhir. Penghasilan sebagai kuli bongkar di pasar tidak pernah menentu, sementara kebutuhan anak sakit tidak pernah bisa menunggu.Di titik terendah, anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, susu dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Habibie tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Habibie!
Dana terkumpul
Rp 2.573.004
11 hari lagi
Dari Rp 26.241.000
Donasi