Panggilan Mendesak

camp
Kesehatan

Tubuhnya Lumpuh! Pak Aron Alami Penyumbatan pembuluh Darah dan Diabetes

“Suamiku terkena PHK dan menganggur lebih dari setahun. Namun, Ia tidak menyerah dan memutuskan untuk merantau ke Jakarta demi mendapat pekerjaan. Baru sebulan Ia mencoba menjadi supir taksi online, siapa sangka cobaan datang. Suamiku ditemukan tak sadarkan diri di kamar kosnya saat akan berangkat gereja.”“Ia didiagnosa mengalami penyumbatan pembuluh darah hingga stroke berat. Aku sempat berpikir suamiku tidak bisa selamat melewati masa kritis di ICU rumah sakit, tapi Tuhan masih memberikan kesempatan. Aku sendiri kebingungan membiayai pengobatannya yang panjang, aku juga tak mau kehilangannya.” -Ngalminah, Istri dari Aron- Suamiku, Aron Sokhizato Gea (47 thn), mengalami lumpuh badan, tangan dan kaki sebelah kanan. Seolah penderitaan tak berhenti mengintainya sampai disitu, Ia sering mengeluhkan sakit kepala hebat. Saat diperiksa, Ia didiagnosa diabetes hingga hipertensi.Kondisi suamiku terus menurun, hingga akhirnya Ia menjalani operasi pada tempurung kepalanya. Syukurlah, operasi berjalan lancar. Tapi cobaan baru datang, saat suamiku sudah bisa pulang dari rumah sakit, aku bingung harus pulang kemana? Kami di perantauan dan tidak ada uang untuk bayar kosan.Di tengah keputusasaan itu, ternyata Tuhan tak membiarkanku sendiri. Melalui keluarga dan teman dekat yang membantu dana, aku bisa melewati hari itu. Aku mencari kamar kos sederhana dan memulai hari-hariku dengan perjuangan.Aku akhirnya membawa suamiku pindah ke rumah singgah karena sudah tidak sanggup membayar sewa kos. Pikiranku juga terpecah, antara merawat suamiku dan kondisi anak-anakku di kampung halaman di Tanjung Pinang, yang dititipkan pada Ibuku.Di kondisinya yang sudah tua, Ibuku tetap harus bekerja membuat kue agar bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari anakku dan sewa rumah di sana. Demi menghemat biaya, aku mempelajari sendiri cara terapi yang aku perhatikan saat suamiku berobat, dan melakukan terapi mandiri pada suami di rumah singgah.Perjuanganku mulai menunjukkan titik terang, kesadarannya mulai kembali. Sebelumnya hanya bisa membuka mata saja, kini Ia sedang berlatih duduk dan bisa didudukkan di kursi roda. Ia juga mengikut saran dokter untuk membantu menggerakkan tangan kanan menggunakan tangan kirinya.Suamiku harus menjalani operasi lanjutan, tapi aku kesulitan biaya. Aku tidak bisa mencari nafkah karena harus fokus merawat suami, sementara keluarga sudah tak bisa lagi membantu. Aku juga sudah meminta bantuan ke pemerintah dan pihak swasta, tapi belum juga mendapatkan respon.Sementara itu, suamiku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp 100.000 saja, kita bisa jadi alasan Aron tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Aron!   
Dana terkumpul Rp 2.532.000
2 hari lagi Dari Rp 18.710.000
Donasi
camp
Anak

Operasi Tak Mengakhiri Derita Daffasya, Anakku Bisa Terancam Transplantasi Hati

“Setelah operasi, anakku semakin menderita. Ia berulang kali mengalami infeksi pada saluran empedu setelah operasi. Saat infeksi kambuh, tubuh mungilnya mendadak demam tinggi, bagian putih matanya kembali menguning, BAB kembali berwarna pucat, dan perutnya terlihat membuncit.”“Hal yang membuat hatiku hancur adalah operasi yang dijalani anakku hanyalah cara untuk menunda kerusakan organ hati anakku. Suatu hari nanti, anakku kemungkinan tetap harus menjalani transplantasi hati.” -Septi Permata, Orang tua Daffasya-Obat dari dokter tidak memberi dampak apapun pada anakku, Daffasya Arya Narendra. Kondisinya justru terus menguning sampai menjalar ke bagian putih matanya. Berat badannya terus menurun hingga tampak sangat kurus. Namun, yang paling janggal adalah BAB-nya berwarna pucat. Perasaanku sebagai orang tua mulai dipenuhi kecemasan, rasanya ada yang tak beres pada buah hatiku. Akhirnya, aku membawanya ke rumah sakit. Selama 7 hari Ia menginap di rumah sakit, ternyata fungsi organ hatinya mengalami peningkatan.Selanjutnya, kabar dari dokter membuat hidupku rasanya runtuh! Dokter menyampaikan bahwa Daffasya mengalami atresia Bilier, yaitu kelainan langka ketika saluran empedu tidak terbentuk atau tersumbat. Saat itu juga dokter memutuskan untuk melakukan operasi. Akibat infeksi itu, tumbuh kembang anakku menjadi lebih lambat dibandingkan anak-anak seusianya. Hari-hari kami dipenuhi jadwal kontrol, pemberian obat tepat waktu, pemeriksaan laboratorium, dan rasa cemasku yang tak terbendung. Bukan lagi tentang rasa lelahku, tetapi melihat anakku harus berkali-kali merasakan sakit.Anehnya, justru Daffasyalah yang mengajarkanku arti ketabahan. Pernah setelah menjalani tindakan medis, tubuhnya masih lemas dan tangannya masih terpasang infus. Saat aku menggendongnya, Ia justru mengusap pipiku  sambil tersenyum kecil. Ia seperti tidak ingin menyerah. Namun perjuangan ini juga membawaku pada titik terendah. Suamiku bekerja sebagai juru parkir di ruko setiap pagi dengan penghasilan tidak menentu. Setelah selesai bekerja, jika bisa meminjam motor milik kakaknya, suamiku melanjutkan mencari nafkah sebagai pengemudi ojek online.Penghasilan yang tidak menentu membuat kami beberapa kali kesulitan membeli susu khusus, vitamin, membiayai pemeriksaan yang tidak ditanggung BPJS dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp 100.000 saja, kita bisa jadi alasan Daffasya tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Daffasya!  
Dana terkumpul Rp 1.326.000
12 hari lagi Dari Rp 16.707.000
Donasi
camp
Kesehatan

Dari Sopir Angkot Menjadi Pasien Usus Bocor, Ayah Kini Bergantung pada Perawatan Keluarga

“Ayah yang sehari-harinya bekerja sebagai sopir angkot, tiba-tiba mengeluhkan nyeri perut yang luar biasa hebat. Bahkan, perutnya keras seperti papan, sampai Ia mual, muntah dan demam tinggi. Ia sampai lemas tak berdaya karena tak kuat menahan penderitaan yang nyari merenggut nyawanya.” “Kini, di keluarga hanya aku satu-satunya yang mencari nafkah. Sebagai guru honorer, aku hanya mendapatkan penghasilan sekitar Rp500 ribu setiap bulan. Penghasilan itu tak hanya dibagi untuk pengobatan ayahku, tapi juga untuk kebutuhan sehari-hari dan pengobatan Ibuku yang sakit jantung. Rasanya begitu berat, tapi aku tak mau kehilangan orang tuaku.” -Fanny Nurul, Anak dari Pak Komarudin-Awalnya, Keluarga mengira Ayahku, Komarudin, sakit maag. Namun, akhirnya keluarga melarikan ke rumah sakit dengan sangat panik karena kondisinya yang terus menurun. Hasil pemeriksaannya menjadi titik paling menyakitkan bagi keluarga, Ia didiagnosa usus bocor. Dokter menjelaskan bahwa usus bocornya menyebabkan isi saluran pencernaan beserta bakteri keluar ke rongga perut. Tanpa banyak waktu untuk berpikir, dokter segera melakukan operasi darurat untuk menutupi kebocoran ususnya dan membuat lubang pada perutnya untuk tempat BAB.Perjuangan Ayah belum berakhir meski sudah operasi. Luka operasi masih sering terasa nyeri dan perih.  Beliau harus merawat kantong stoma setiap hari agar tidak menimbulkan infeksi baru. Hampir semua aktivitas sehari-harinya harus dibantu keluarga karena kondisi fisiknya lemah. Saat nyeri kambuh, beliau hanya bisa meringis kesakitan sambil memegangi perut. Tak jarang rasa sakit itu kembali disertai mual dan demam tinggi sehingga keluarga harus segera memberikan obat atau dibawa ke IGD."Aku ingin sembuh. Kasihan keluarga kalau harus mengurus aku terus dalam keadaan sakit seperti ini," kalimat sederhana itu menjadi penguat keluarga untuk terus mendampinginya melewati masa-masa sulit ini.Aku sendiri sebagai anak melakukan apapun agar pengobatan ayahku tak terputus. Aku mengatur jadwal berobat, membantu membersihkan dan mengganti kantong stomanya, mengantarnya ke rumah sakit, hingga mengantre sejak dini di rumah sakit. Di sisi lain, aku berupaya mencari pekerjaan tambahan agar pengobatan ayahku terpenuhi.Jujur, aku benar-benar buntu. Aku kesulitan untuk menanggung biaya transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, membeli peralatan medis, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp 100.000 saja, kita bisa jadi alasan Pak Komarudin tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Pak Komarudin!   
Dana terkumpul Rp 878.000
13 hari lagi Dari Rp 6.540.000
Donasi

Pilihan Campaign