Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Anak
“Adek Ingin Main Bola,” Harapan Kecil Reyndra untuk Mendapatkan Jantung Sehatnya
“Dalam kepolosannya, anakku sering bertanya, ‘Ayah… dede mau lari-lari, mau main bola. Dede nanti sembuh kan ya?’ Ia belum mengerti betapa berat kenyataan yang harus dihadapinya. ““Namun, setiap kata dari anakku menyimpan harapan besar yang tak tega aku biarkan pudar. Kalimat sederhana itu menjadi kekuatan terbesar untuk terus memperjuangkan kesembuhan anakku. Kelak, aku ingin melihatnya berlari, tertawa dan hidup seperti anak-anak sehat lainnya.” -Opik Taufik, Orang tua Reyndra-Tangisan pertama seorang bayi biasanya menjadi tanda kebahagiaan bagi orang tua. Namun, tidak bagiku dan suami…Anakku, Muhammad Reyndra Ardhana Rahman (4 thn), lahir melalui operasi sesar d karena posisi sungsang. Saat itu, aku menanti suara tangis pertama anakku dengan penuh harap, tapi yang terjadi justru keheningan. Anakku lahir tanpa tangisan, saat itu seketika aku mengalami ketakutan yang luar biasa. Setelah diperiksa, dokter menyampaikan kabar yang mengguncang perasaanku. Ada kebocoran dan penyempitan pada jantung anakku! Ia juga kekurangan oksigen sampai tubuhnya membiru. Dokter saat itu memutuskan agar anakku menjalani perawatan di inkubator selama 3 hari. Bayi kecilku, Ia sudah harus langsung berjuang untuk bertahan hidup begitu lahir di dunia. Hari-harinya tak pernah mudah, Ia sering mengalami sesak napas, mudah lelah dan tubuhnya sampai kebiruan. Dokter akhirnya merujuk anakku untuk melanjutkan pengobatan ke Jakarta. Bermodal nekat dan uang seadanya, enam jam perjalanan ku tempuh membawa anakku dari Kuningan, Jawa Barat, ke Jakarta. Namun, pengobatan berlangsung panjang, harus berkali-kali aku membawa anakku bolak-balik berobat ke perantauan. Hingga akhirnya semua uang habis, pengobatan anakku terpaksa terhenti.Seiring waktu, kondisi anakku kembali memburuk. Napasnya sesak dan anakku mengalami kelemahan pada kaki hingga tak mampu berdiri akibat kekurangan oksigen. Aku tak bisa diam saja, akhirnya aku menjual motor dan bahkan menggadaikan sertifikat rumah orang tuaku agar bisa membawa anakku berobat ke Jakarta. Syukurlah, setelah menjalani kateterisasi jantung di rumah sakit di Jakarta, kondisi anakku mulai membaik. Meski sudah ada perkembangan, tubuh anakku sesekali masih membiru dan nafsu makan anakku menurun.Anakku masih harus kontrol rutin dan menunggu operasi lanjutan pemasangan ring. Perjuangan anakku belum selesai, sementara biaya masih terus berjalan. Aku hanyalah buruh di vendor yg bekerja sama dengan PLN, penghasilanku hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, vitamin, susu dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Reyndra tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Reyndra!
Dana terkumpul
Rp 12.130.001
11 hari lagi
Dari Rp 20.000.000
Donasi
Anak
Perjuangan dari Papua ke Jakarta, Elisius Jalani 4 Kali Operasi demi Sembuh dari Kelainan Usus
“Aku nekat! Bermodalkan utang di bank, aku membawa anakku berobat dari pelosok Papua ke Jakarta dengan hati cemas dan penuh harap. Namun belum juga pengobatannya selesai, uang yang kubawa sudah habis tak tersisa dan anakku malah pingsan hingga 2 kali. Aku ketakutan luar biasa menyaksikan tubuhnya tak berdaya.”“Di tengah kebingungan itu, aku juga luntang-lantung di perantauan, tidak ada uang untuk sewa tempat tinggal. Namun, di titik paling gelap itu, Seorang yang baru kukenal di rumah sakit, dengan tulus menawarkan tempat tinggal selama anakku dirawat inap. Kebaikan itu bagai pelukan hangat dari Tuhan. Saat itulah aku percaya, akan selalu ada tangan baik yang Tuhan kirimkan.” -Ika Setianingrum, orang tua Elisius-Di usianya yang baru 1 tahun, anaku, Elisius Daniel Saputra Mbaubedari (1 thn) sudah melewati 4 kali operasi! Ia didiagnosa hirschsprung disease, yaitu kelainan bawaan sejak lahir yang membuat usus besarnya tidak memiliki saraf.Di hari pertama kelahirannya, ia tak kunjung BAB dan malah muntah. Hati seorang ibu mana yang tidak panik? Dengan penuh kecemasan aku membawanya ke dokter. Benar saja, semuanya berubah serius. Di usia yang baru 4 hari, Ia sudah harus menjalani operasi pertamanya. Anakku dirujuk ke Jakarta untuk operasi lanjutannya. Namun cobaan tak berhenti di situ. Tak lama setelah operasi, perutnya kembung, ia mencret tanpa henti, ususnya membengkak. Dokter menyarankan terapi dan obat, tetapi tak ada perubahan berarti. Bahkan dokter sampai terbang ke Singapura untuk berdiskusi dengan tim medis di sana demi mencari jalan terbaik untuk anakku. Hasilnya ditemukan penyempitan di atas anusnya, dan harus menjalani operasi ulang. Setelah itu, Ia bukannya membaik, tapi malah mengalami dehidrasi, demam tinggi, campak, bahkan infeksi bakteri yang menyebabkan kista di ketiaknya.Dokter memutuskan anakku menggunakan selang NGT melalui hidungnya untuk makan dan minum agar menghindari infeksi. Ia BAB bukan melalui anus, tapi melalui perut sebelah kanannya yang dilubangi dan dibungkus kantong stoma. Setiap kali membersihkannya, aku berusaha tersenyum, meski air mata sering jatuh tanpa bisa kutahan.Namun, meski sudah sakit sejak lahir, tapi anakku jarang sekali merengek seperti anak sakit pada umumnya. Ia hanya merintih pelan saat rasa sakitnya benar-benar tak tertahankan. Berat badannya yang tetap baik, meski dengan segala keterbatasan pencernaannya, seperti menjadi tanda bahwa ia ingin sembuh, ia ingin hidup.Perjuangan kami belum selesai, operasi lanjutan masih menunggu. Suamiku kini bekerja lebih keras, dari pagi hingga malam menarik ojek, meninggalkan anak kami yang lain sendirian di rumah demi biaya pengobatan adiknya. Aku sudah mencoba menghubungi berbagai yayasan, berharap ada bantuan, tetapi belum ada jawaban.Sekedar makan sehari-hari pun, aku masih dibantu oleh orang baik yang aku temui di rumah sakit. Beberapa pasien juga membantu menebus obat anakku. Sementara itu, perjalanan sembuh anakku masih panjang. Ia masih terus membutuhkan biaya transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Elisius tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Elisius!
Dana terkumpul
Rp 19.417.000
4 hari lagi
Dari Rp 19.317.000
Donasi
Anak
Senyum Getir Fayzel di Tengah Kerusakan Organ Hatinya yang Terus Memburuk
“Saat dokter mengatakan anakku mengalami gangguan organ hati serius, momen itu menjadi titik yang menghancurkanku. Lututku lemas, dadaku sesak menahan tangis. Di hadapanku terbaring tubuh anakku yang begitu rapuh, membuatku terus bertanya, mampukah Ia bertahan dari penyakit yang mengancam nyawanya setiap detik?”“Sejak itu, suamiku terpaksa meninggalkan pekerjaannya karena fokus mendampingi anak berobat. Setiap bulan, anakku harus dibawa kontrol rutin dari Lampung ke Jakarta. hanyalah guru honorer dengan penghasilan yang tak seberapa, itupun aku sering cuti demi anak. Kondisi ini membuat keluarga kami kesulitan ekonomi. bahkan kebutuhan sehari-hari kini sering bergantung bantuan keluarga.” -Asri Bunga, Orang tua Fayzel-Fayzel Ghava Kareem (9 bln) mulai menunjukkan gejala sakitnya saat usianya baru 1 minggu. Tubuhnya tiba-tiba tampak berwarna kuning. Awalnya aku mencoba menenangkan diri, berpikir mungkin ini hanya kuning biasa pada bayi. Namun, kian hari warna kuning itu tak memudar, justru makin pekat dan mengkhawatirkan. Hingga akhirnya dokter mengatakan ada yang tidak biasa. Aku masih ingat betul bagaimana paniknya aku saat mendengar kenyataan pahit yang terjadi pada anakku. Ternyata, anak yang baru saja ku peluk dengan rasa syukur, harus menghadapi kelainan metabolik-genetik yang menyerang fungsi hatinya.Penyakit itu menyebabkan organ hati anakku membesar dan mengeras hingga membuat perutnya membengkak. Kulit hingga matanya kuning, tubuhnya mengalami anemia, trombositnya rendah, pertumbuhannya terganggu, bahkan beresiko pendarahan. Saat ini, anakku tidak bisa beraktivitas seperti bayi seusianya. Ia mudah lelah, napsu makannya sering menurun dan perkembangan motoriknya terhambat. Dalam kondisi tertentu, anakku bisa beresiko untuk menjalani transplantasi hati jika kerusakannya semakin parah.Namun dibalik tubuhnya yang lemah, Fayzel adalah anak yang luar biasa kuat. Tangisnya tak pernah lama meski Ia sakit setiap waktu. Ia tetap tersenyum setiap kali diperiksa dokter, seolah ingin menguatkanku bahwa ia belum menyerah. Senyum kecil itulah yang menjadi sumber kekuatanku. Aku percaya, Tuhan masih menyimpan harapan untuknya.Kini Fayzel masih dalam pemantauan intensif. Perjuangannya belum selesai. Namun di tengah ikhtiar untuk menyelamatkan anakku, aku dihadapkan pada kenyataan biaya yang tak sedikit. Untuk kontrol saja, kami harus menyeberang pulau dengan biaya transportasi yang besar. Belum lagi obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS, susu khusus, serta kebutuhan hariannya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Fayzel tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Fayzel!
Dana terkumpul
Rp 20.227.003
4 hari lagi
Dari Rp 19.970.000
Donasi