Panggilan Mendesak

camp
Kesehatan

Saya Lumpuh Total! Ingin Bisa bergerak Lagi

Tahun 2019 kejadian naas menimpa saya waktu itu. Saya jatuh dari pohon kelapa yang mengakibatkan saya menderita kelumpuhan sampai sekarang karena patah tulang. Kondisi kelumpuhan saya dimulai dari dada ke bawah yang mati rasa, saya tidak bisa merasakan apa-apa. Kondisi saya semakin parah dengan adanya luka di kedua sisi bokong saya yang membuat saya hanya bisa berbaring.Saya tidak tahu harus berbuat apa lagi. Kaki saya bahkan tidak bisa diluruskan, saya benar-benar lumpuh. Kegiatan mandi dan mengganti perban pun harus dibantu oleh orang tua saya karena saya sudah tidak bisa melakukannya sendiri.Kondisi orang tua yang sudah sangat tua, membuat saya tidak tega apabila mereka terus mengurus keperluan saya sehari-hari. Saya tidak mau mereka kelelahan mengurus saya yang sudah tidak bisa apa-apa ini. Sekarang untuk keperluan sehari-hari kami dibantu tetangga dan masyarakat sekitar. Saya membutuhkan bantuan TemanBaik untuk membeli kebutuhan ganti perban dan obat-obatan untuk mengurangi rasa sakit. TemanBaik, saya Lumpuh. Saya ingin sembuh dan bisa bergerak lagi.
Dana terkumpul Rp 7.476.006
11 hari lagi Dari Rp 10.000.000
Donasi
camp
Anak

Setelah Vaksin, Anakku Ketahuan Alami Cerebral Palsy

“Aku pernah berada di titik terendah sebagai seorang Ibu, ku terpaksa menghentikan pengobatan anakku selama 6 bulan! Itu semua karena aku benar-benar tidak ada biaya. Sementara tubuh anakku semakin  hari semakin kaku akibat kejang parah.”“Penghasilanku pas-pasan. Aku hanyalah tukang cuci, gosok dan beres-beres rumah orang.  Itu pun tidak selalu ada panggilan. Kadang ada, kadang tidak. Meski aku harus mati-matian mencari pekerjaan demi pengobatannya, aku tidak pernah lelah demi kesembuhan anakku.” -Nur Koerunisa, Orang tua Rafaizan-Muhamad Rafaizan Maulana Sidik (5 thn), anakku yang seharusnya tumbuh ceria, kini harus berjuang melawan kerasnya takdir. Padahal, anakku tumbuh sehat dan ceria, setiap hari tawanya menghiasi rumah. Namun, hidupnya berubah saat penyakit gangguan otak itu datang saat usianya 2 tahun.  Awalnya anakku menjalani vaksin polio, tapi pulangnya Ia mengalami kejang hebat disertai demam. Aku begitu terkejut dan langsung membawanya ke rumah sakit. Dokter saat itu mengatakan Rafaizan mengalami cerebral palsy dan epilepsi. Sejak itu, hidup anakku berubah kelam.    Sudah lebih dari 2 tahun aku berjuang demi anakku, Bolak-balik rumah sakit menjadi rutinitas. Mulai dari pemeriksaan EEG, MRI, hingga terapi fisioterapi yang harus dijalani 8 kali dalam sebulan.Namun, tak banyak perubahan. Otot-ototnya kaku hebat akibat kejang setiap hari, berat badannya terus menurun. Ia hanya bisa menangis, menahan sakit yang tak mampu diungkapkan. Hatiku hancur melihat anakku tak berdaya.            Di sisi lain, aku kesulitan memenuhi pengobatannya. Dalam sebulan, penghasilanku bahkan tak cukup memenuhi semua kebutuhan pengobatan anakku. Banyak obat yang tidak ditanggung BPJS, belum lagi kebutuhan susu khusus dan popok yang harus selalu tersedia.Aku sudah berupaya menjual apa yang kami miliki karena kesembuhan anakku adalah segalanya. Hatiku sering bertanya, apakah suatu saat anakku bisa sembuh dan kembali tertawa? Apakah Ia bisa bermain seperti anak-anak lainnya? Bisa berlari, berjalan, dan merasakan masa bahagianya menjadi anak-anak?Selain obat-obatan, anakku membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, vitamin, dan kebutuhan lainnya yang sulit aku penuhi.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Rafaizan tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Rafaizan!
Dana terkumpul Rp 4.735.000
9 hari lagi Dari Rp 4.635.000
Donasi
camp
Kesehatan

Derita 9 Tahun Penyakit Prostat, Tangis Bapak Ngatiyo Tak Tertahan Tiap Kencing Darah

“Bapakku sempat pesimis, dengan suara lirih dan putusasa Ia mengatakan ingin mati saja! Ia tidak sanggup menahan sakit yang terus menghantuinya, Ia juga sedih karena menjadi beban bagi anaknya sendiri.  Bayangkan saja, 9 tahun lamanya bapakku bertahan dengan penyakit prostat di tubuhnya.”“Setiap kali kambuh, bapakku akan menjerit kesakitan dan menangis pecah menggema di rumah. Saking menderitanya, kencingnya sampai mengeluarkan darah. Sudah 9 kali bapakku harus pasang-copot selang kencing, itulah bukti perjuangannya untuk bertahan setiap harinya.” -Sri Kusnia, anak dari Bapak Ngatiyo-Bapakku, Ngatiyo Muklis (67 thn), kini hanya terbaring lemah tak berdaya di atas tempat tidur. Tubuh yang dulu kuat mencari nafkah, kini tak lagi mampu menahan rasa sakit yang terus menghantui setiap harinya.Semua bermula pada 2017 silam, bapak selalu mengalami nyeri hebat setiap buang air kecil. Bahkan, terkadang kencingnya bercampur darah. Hingga suatu hari, bapak sama sekali tidak bisa buang air kecil. Aku pun membawanya ke puskesmas karena sangat khawatir.Saat itu, petugas kesehatan memasangi bapak selang kencing selama 2 minggu sebelum akhirnya dirujuk ke rumah sakit besar.Dokter mengatakan bapakku terkena prostat, sehingga membuat saluran kencingnya tersumbat. Seiring waktu, penyakit bapakku semakin parah. Hal yang paling mengerikan adalah kencingnya tak hanya keluar darah, tapi juga nanah. Rasa sakit yang Ia rasakan semakin tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Akhirnya, dokter memutuskan agar bapakku dioperasi karena sudah di tahap infeksi. Sebenarnya bapak sempat menolak, karena takut operasi tersebut lenyakitkan dari apa yang selama ini Ia rasakan. Namun, demi harapan sembuh, Bapak tetap memberanikan diri. Sayangnya, setelah operasi, kondisi bapak justru semakin menurun.Sepulang ke rumah usai operasi, bapak merasa kesakitan luar biasa. Ia kehilangan nafsu makan dan muntah-muntah. Bahkan, untuk bangun dan duduk pun, bapak sudah tidak sanggup. Bapak harus kontrol rutin lebih lanjut, tapi kondisi ekonomi keluarga kami juga terpuruk.Saat masih sehat, bapak bekerja sebagai tukang parkir. Sejak sakit, bapak tidak bisa bekerja lagi dan ibu juga tidak punya penghasilan. Aku pun berinisiatif membawa bapak dan ibu tinggal bersamaku. Aku tidak tega melihat bapak sampai tidak bisa tidur tenang karena kesakitan.Tapi kondisi ekonomiku juga sangat kurang, suamiku hanya bekerja sebagai pegawai swasta dengan penghasilan kurang dari Rp2 juta per bulan, yang harus mencukupi kebutuhan kami dan tiga anak. Dalam keadaan terdesak, aku bahkan menjual kendaraan yang sebenarnya sudah tidak layak pakai, hanya agar bapak bisa tetap berobat. Perjuangan bapak belum berakhir, Ia bapa masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit yang jaraknya jauh, obat yang tidak dicover BPJS, pampers dewasa, vitamin, dan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Bapak Ngatiyo tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Bapak Ngatiyo!
Dana terkumpul Rp 2.322.001
9 hari lagi Dari Rp 18.110.000
Donasi

Pilihan Campaign