Kategori Campaign
Panggilan Mendesak
Anak
Seorang Ibu Berjuang Sendirian Demi Anak yang Didiagnosis Beragam Penyakit
“Sejak lahir, anakku tak pernah lepas dari deretan penyakit yang mengintai tubuhnya. Batu empedu, peradangan hebat pada dinding lambung, gangguan tenggorokan, TB klinis, radang di rongga hidung dan sinus, asma, hingga gangguan saraf, semua harus ditanggung di usia yang seharusnya dipenuhi bermain dan tertawa.”“Di tengah perjuangan melawan penyakit yang tak kunjung usai, anakku juga harus kehilangan sosok ayah akibat perceraian. Kini aku berdiri sendirian, memikul semua beban pengobatan dan kehidupan. Aku bekerja sebagai buruh gudang di pelabuhan, menempel pita cukai rokok. Langkahku terseok, tapi aku tak boleh menyerah demi anakku.” -Tanty Oktabalia, orang tua Andaru-Andaru Yasa Alsaki (5 thn) sudah langsung mendapat perawatan karena demam dan tubuhnya menguning begitu Ia lahir. Hari Ibu mana yang tak hancur menyaksikan bayinya terbaring lemah sejak hari pertama?Cobaan itu belum berhenti, saat usianya baru 3 bulan, anakku mengalami BAB berdarah. Ia sempat membaik setelah minum obat, membuatku sempat lega. Namun kelegaan itu kembali runtuh ketika di usia 1 tahun, Ia terserang infeksi berat hingga leukositnya melonjak drastis.Sejak saat itu, infeksi terus datang berulang, seolah tubuh kecilnya tak pernah benar-benar diberi waktu untuk pulih. Tak lama kemudian, anakku di diagnosa fimosis (kulit ujung penisnya menutup). Di usia yang masih 18 bulan, anakku harus menjalani operasi sunat. Tubuhku gemetar sambil menangis, berusaha kuat melihat anakku yang menderita. Tak lama setelah operasi itu, kondisi Andaru justru memburuk. Ia tak bisa BAB, perutnya mengeras, tubuhnya kembali menguning, dan muntah hebat datang tanpa henti.Dalam kepanikan dan ketakutan, anakku dilarikan ke rumah sakit menggunakan ambulans. Di sanalah Ia didiagnosa mengalami batu empedu, dunia rasanya runtuh! Selama 9 bulan Andaru harus menjalani terapi obat untuk menghancurkan batu empedunya. Setiap hari penuh doa dan kecemasan, tapi syukurlah Tuhan masih memberikan keajaiban. Anakku dinyatakan sembuh dan tak perlu menjalani operasi. Aku menangis lega, mengira badai telah berlalu. Namun ternyata, penderitaan anakku belum selesai.Setelah itu, Andaru kembali mengalami diare hebat dan didiagnosis radang usus. Obat demi obat tak menunjukkan perubahan. Pemeriksaan lanjutan kembali dilakukan, dan diagnosa pun berubah menjadi peradangan dinding lambung. Rasanya hatiku bagai ditampar kenyataan berkali-kali, kabar buruk tak pernah berhenti mengiringi.Kini, hampir setiap bulan Andaru harus keluar-masuk rumah sakit karena kondisinya bisa tiba-tiba menurun drastis. Napasnya sering sesak, bergantung pada alat bantu oksigen dan obat-obatan. Aku harus tetap kuat demi anakku, karena setiap napasnya adalah tanggung jawabku.Aku selalu diliputi ketakutan setiap kali Andaru berkata dengan suara lemah,“Ma, aku sesak napas, aku mual mau muntah.” Kalimat sederhana itu bisa berarti kami harus kembali berlari ke rumah sakit. Sementara uang di tanganku tak selalu ada. Bahkan untuk berobat pun, aku kerap harus meminjam uang dari teman.Saat ini, Andaru masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS, alat bantu pernapasan, dan kebutuhan medis lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Andaru tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Andaru!
Dana terkumpul
Rp 13.043.000
15 hari lagi
Dari Rp 13.012.000
Donasi
Anak
Saat Aku Masih Berjuang Melawan Sakit, Takdir Menguji Anakku dengan Jantung Bocor
“Ujian hidupku seolah menggores luka yang masih menganga! Saat aku sedang berjuang melawan sakit jantung, ternyata anakku didiagnosa jantung bocor dan hipertensi paru. Hatiku hancur dan pikiranku kusut, tubuhku yang rapuh dan terancam ini tetap harus kuat menopang anakku yang kondisinya jauh lebih parah.”“Belum sempat menarik napas, keterbatasan biaya menambah panjang daftar penderitaan kami. Dalam waktu yang hampir bersamaan, aku dan anakku sama-sama harus dirujuk ke rumah sakit di Jakarta. Di titik itulah aku benar-benar tersungkur. Tapi sebagai seorang ibu, aku tak punya pilihan selain bangkit dan bertahan.” -Eli Suryani, Orang tua Ilham-“Nanti setelah disuntik, Ilham sehat ya, Bu?” Itulah kalimat sederhana yang sering dikatakan anakku, Ilham Ramadhani (4 thn), untuk menguatkan dirinya. Ia berharap semua rasa sakit yang Ia rasakan ditebus dengan bayaran kesembuhan.Anakku lahir secara prematur, di usia kandungan 35 minggu. Di usia 14 bulan, anakku didiagnosa mengalami paru-paru kotor dan kekurangan kalsium. Sejak itu, kehidupannya sudah diuji dan Ia harus perawatan rutin ke rumah sakit.Seiring waktu, kondisi anakku membaik dan Ia tumbuh seperti anak-anak sehat lainnya. Namun, menginjak usia 3 tahun, anakku jadi sering mengeluh kepalanya pusing dan Ia mudah lelah. Hatiku mulai gelisah, rasanya janggal anak sekecil itu sering sakit kepala.Saat aku membawanya untuk diperiksa, anakku didiagnosa jantung bocor. Rasanya seperti disambar petir di siang bolong. Rasa bersalah langsung menyergap pikiranku, apakah sakit jantung yang ku derita ini menjadi sebab anakku harus menanggung sakit yang sama?Tanpa pikir panjang, aku menguras tabungan dan meminta bantuan biaya dari kerabat dekat agar bisa membawa anakku berobat dari Lampung ke Jakarta. Ia sudah menjalani kateterisasi jantung, tapi kondisi masih sering mudah lelah dan sesak napas.Perjuangannya untuk sembuh masih panjang, Ia harus bolak-balik Lampung dan Jakarta untuk kontrol rutin. Biaya yang dibutuhkan untuk pengobatan cukup besar, sementara suamiku hanyalah petani yang penghasilannya tak menentu. Saat malam, suamiku narik ojek untuk tambahan biaya. Anakku masih akan membutuhkan biaya untuk obat yang tidak dicover BPJS, transportasi ke rumah sakit, tempat tinggal selama di Jakarta, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Ilham tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Ilham!
Dana terkumpul
Rp 11.618.500
9 hari lagi
Dari Rp 11.445.000
Donasi
Anak
Berawal dari Diare, Ahmad Diketahui Sakit Jantung dan Harus Operasi di Jakarta
“Pupus sudah harapanku ketika dokter mengatakan salah satu tindakan operasi jantung lanjutan anakku tidak ditanggung BPJS. Seolah semua doa dan usahaku terhenti di titik itu. Padahal, dengan penuh harap anakku sudah menjalani persiapan berat untuk operasi, seperti pengobatan gigi, THT, hingga pemeriksaan darah.”“Sementara itu, sudah tiga bulan lamanya aku bertahan di Jakarta, setia mendampingi anakku berjuang melawan sakitnya. Hari-hari kami lalui dengan keuangan yang semakin menipis, bahkan pinjaman uang yang aku ambil demi pengobatan pun belum mampu aku kembalikan. Tuhan, bagaimana anakku bisa melanjutkan operasinya?” -Sudaryanto, Orang tua Ahmad-Semuanya bermula dari diare berkepanjangan yang dialami anakku, Ahmad Ibrahim Ramadhan (2 tahun). Tak pernah terlintas di benakku, dari sakit itu dokter justru menemukan penyakit jantung di tubuhnya. Jantungnya membengkak, tapi rumah sakit di daerah juga tak bisa menanganinya. Anakku dirujuk dari Kalimantan ke rumah sakit di Jakarta. Hatiku bagai dihantam badai! Namun aku tak punya waktu untuk larut dalam kesedihan karena harus fokus pengobatan anak.Membayangkan besarnya biaya yang aku punya untuk ke Jakarta, rasanya seperti tak mungkin. Aku hanyalah buruh lepas kelapa sawit, dengan penghasilan pas-pasan yang bahkan sering tak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, aku berusaha keras demi anakku. Mulai dari mengambil jam kerja lebih banyak demi upah tambahan meski lelah tak bisa disangkal. Meminjam uang ke saudara dan tetangga pun tak bisa dihindari, karena dengan upah sekecil itu, entah sampai kapan uang untuk ke Jakarta bisa terkumpul.Akhirnya, aku bisa membawa anakku ke Jakarta menjalani operasi.Kondisinya perlahan membaik. Namun perjuangannya belum selesai. Ia kini mudah lelah, pertumbuhannya terhambat, dan kesulitan mencerna makanan sehingga asupan gizinya sangat kurang.Meski tubuhnya tampak kecil dan rapuh, semangat hidup anakku sungguh luar biasa. Ia terus bertahan, meski jarum suntik itu menyakiti tubuhnya. Ia tak pernah mengeluh saat harus menelan pahitnya obat, seolah sudah belajar menerima rasa sakit di usia yang begitu dini.Suatu hari, dengan suara terbata-bata, ia berkata, “Aku pengen sembuh, main sama teman-teman.” Kalimat sederhana itu menghancurkan hatiku. Aku terharu sekaligus merasa bersalah, karena anak sekecil ini harus menanggung penderitaan yang seharusnya belum Ia kenal.Pengobatan anakku masih terus berlanjut, biaya pengobatan anakku semakin besar. Anakku masih butuh biaya transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS dan biaya lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Ahmad tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Ahmad!
Dana terkumpul
Rp 9.042.500
6 hari lagi
Dari Rp 8.850.000
Donasi